I. Sistem Keagamaan

` Hanya dengan perantara gereja universal sajalah maka pemerintah dapat mencapai pemerintahan universal, inilah pernyataan Jurgen Moltmann salah seorang terkemuka dari Tubingen, penganut teologi pengharapan. Masa sekarang digunakan mengubah kekacauan dunia menjadi tempat yang sempurna di masa depan, segala cara dapat digunakan termasuk mengulingkan pemerintahan dan semua ini dilakukan dalam nama agama, inilah idiologi teologi pembebasan liberalism yang mengajak semua umat manusia menciptakan bumi sebagai dunia yang sempurna.
Idiologi pemikiran teologia pembebasan didahului dengan dibentuknya General Ecumenical Council, pembentukan organisasi ini bertujuan sebagai payung organisasi berbagai badan inter-denominasi sebagaimana yang disampaikan sekertaris jenderal dewan gereja nasional R. H Edwin Espy pada desember 1969 (Newsweek, 15 Desember 1969, hal. 97), ini merupakan upaya pemersatuan umat manusia di bawah satu agama dunia. Walaupun organisasi seperti ini muncul-tengelam, namun gerakan ke arah pemersatuan terus diupaya sampai sekarang.
Asas universalisme digunakan untuk menjadi landasan iman organisasi oikumene (kata yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti dunia yang dihuni orang), aliran ini mengajarkan bahwa pada akhirnya semua orang akan selamat dan pergi ke Sorga. Gerakan oikumene Kristen yang dibentuk 1894 dengan nama Open Church League memiliki semboyan love unify doctrine devide, ajaran-ajaran yang dibangun setiap interdenominasi merupakan tembok pemisah pemersatuan yang harus disingkirkan dan diganti dengan kasih persaudaraan tanpa memperbincangkan perbedaan untuk mencapai tujuan utama dari gerakan ini yakni menciptakan pengharapan di masa depan akan dunia yang sempurna.
Tidak ada kebenaran absolut semua kebenaran adalah relatif, semua berhak mengklaim benar dan tidak ada yang boleh menolak serta meragukan kebenaran iman interdenominasi karena nilai kebenaran bagi gerakan ini adalah subyektif. Alkitab bukanlah satu-satunya sumber kebenaran dan Yesus Kristus bukanlah satu-satunya juruselamat manusia, universalisme adalah iman yang tidak boleh diragukan dan tidak boleh dibantah untuk mencapai dunia yang sempurna, itulah asas idiologi dari gerakan oikumene.
Wahyu 17: 5 memberikan gambaran bahwa gerakan kesesatan diakhir zaman merupakan sebuah sistem keagamaan yaitu Babel besar. Babel adalah kota yang berarti kekacauan atau percampuran yang terorganisir, bukan hanya sekadar kota namun juga sistem organisasi yang Anti-Allah (Lihat Kejadian 11: 1-9). Nama dan ajaran setiap denominasi yang tergabung dalam sistem keagamaan tidak sama, namun terorganisir dalam satu wadah organisasi persatuan itulah sifat dari gerakan kesesatan sistem keagamaan diakhir zaman yakni Babel besar, dan itulah gerakan oikumene sekarang yang sangat identik dengan Babel (percampuran yang teroganisir).

II. Daerah Kekuasaan

Semangat persatuan dan pengabungan denominasi berlangsung dengan sangat menganggumkan di seluruh dunia, beberapa kelompok yang dahulu berpendirian kukuh dengan semangat separasi telah tertarik oleh kuatnya arus kompromistis walaupun tetap mendapat tantangan namun dorongan ke arah pemersatuan gereja dan agama di seluruh dunia tetap berlangsung dengan pesat.
David Cloud dalam literatur way of life melaporkan bahwa beberapa gereja Independen Baptist dan pemimpin fundamentalis Kristen telah menjadi pendukung dan mempromosikan gerakan ekumenikal dalam lingkup pelayanan, contemporary christian music dan gereja yang berasaskan universalisme telah merusak semangat fundamentalisme yang diwarisi oleh orang-orang yang setia memegang teguh Alkitab tanpa kompromi pada abad ini, tidak terkecuali di Indonesia, di Amerika, di Afrika, di Eropa gerakan ekumene telah menjadi gerakan yang mendapat posisi istimewa dalam kekristenan, bahkan dalam lintas agama gerakan ekumene memiliki peran sentral mempersatukan perbedaan tiap agama di seluruh dunia.
Wahyu 17: 1 menyatakan Babel besar wanita pelacur duduk di tempat yang banyak airnya, wahyu 17: 15 menjelaskan bahwa itu adalah bangsa-bangsa, rakyat yang banyak dan bahasa, inilah lingkup kekuasaan dari organisasi kesesatan di akhir zaman yakni mencakup seluruh dunia, istilah teknis yang sangat cocok dengan oikumene. Gerakan oikumene akan berkuasa di segala bangsa dan segala bahasa di seluruh dunia dengan tujuan menyatukan manusia dalam perbedaan yang terorganisir.

III. Pelacuran

Contemporary christian music dan kepemimpinan wanita dalam gereja pada awalnya mendapat tantangan dan penolakan dari kekristenan, namun kemajuan yang pesat dari gerakan yang mengusung faham universalisme dalam kekristenan pada akhirnya dapat diterima oleh kelompok besar kristen bahkan beberapa kaum fundamentalis pun tidak luput dari kompromistis, dibeberapa gereja bahkan tidak segan-segan bertukar mimbar dengan kelompok interdenominasi, kondisi ini pun telah menjalar ke dalam institusi sekolah teologia.
Komitmen untuk menjunjung tinggi Alkitab sebagai kebenaran absolut dan menjadi orang kristen yang lahir baru, serta menjadi murid Kristus yang taat hanya dikumdangkan dan dijalankan sekelompok orang Kristen, bahkan kelompok kristen Alkitabiah inipun tidak mendapat tempat dalam kalangan kristen saat ini (Lukas 18: 8). Pengajaran atau doktrin tidak diperbolehkan untuk diperbicangkan karena akan membuat perbedaan yang memisahkan itulah semboyan kekristenan saat ini, yang lebih senang mendengarkan ajaran yang memuaskan telinga dan dongeng (2 Timotius 4: 3-4).
Pengajaran atau doktrin sebagai landasan iman kristen yang terakum dalam amanat agung Matius 28: 19-20, dan doktrin sebagai penuntun untuk membangun kehidupan kristen yang benar (2 Timotius 3: 16) telah dikompromikan dengan filosofi duniawi demi percampuran terorganisir. Harta yang berharga dalam iman kristen telah dilacurkan oleh gerakan oikumene demi percampuran terorganisir dengan semboyan kasih mempersatukan doktrin memisahkan, sehingga kekristenan saat ini tumbuh dalam iman yang tanpa pengertian.
Wahyu 17: 5 menyatakan bahwa Babel besar wanita pelacur adalah ibu dari wanita-wanita pelacur, ini merupakan gambaran gereja universal atau gereja am (memiliki konsep yang sama dengan gerakan oikumene yakni gereja adalah tubuh Tuhan yang tak kelihatan/ invisible, lihat tulisan saya Prinsip-Prinsip dasar Gereja Alkitabiah) telah menjadi pelacur mengikuti jejak ibu mereka yakni Babel besar. Wabah pelacuran telah mewabahi banyak gereja, semboyan oikumene kasih mempersatukan doktrin memisahkan telah dikumandangkan banyak kelompok gereja, sehingga banyak orang kristen saat ini hidup tanpa identitas kristen yang sejati, hidup mereka hanya berdasarkan pengalaman tanpa pengertian yang benar (Matius 15: 8-9, Roma 10: 1-3).

IV. Kasih Yang Semu

Untuk mencapai dunia yang sempurna maka semboyan yang terus dikumandangkan oleh gerakan oikumene adalah kasih, karena hanya kasihlah yang dapat mempersatukan seluruh dunia dalam satu kedamaian. Namun kasih yang identik dengan kasih oikumene adalah kasih yang memberi, berbagi segala sesuatu yang dibutuhkan manusia (filio), toleransi tanpa teguran itulah kasih oikumene hal ini bertolak-belakang dengan kasih Allah (agape) yang penuh didikan dan teguran bagi manusia.
1 Korintus 13: 3 menjelaskan bahwa kasih Allah tidak identik dengan berbagi atau memenuhi kebutuhan manusiawi melainkan kasih Allah tercermin dalam janji keselamatan yang ditawarkan pada manusia (Yohanes 3: 16). Pengetahuan iman tanpa kelahir-baruan tidak berguna, demikian pula berbagi tanpa kelahiran kembali tidak ada faedahnya (1 Korintus 13: 1-3), kasih Allah mengandung konsekuensi janji yang kekal namun kasih manusia adalah janji yang semu. Kasih manusia yang semu inilah yang digunakan oleh gerakan oikumene untuk mengiring semua manusia masuk ke dalam percampuran terorganisir untuk melawan kebenaran Allah.

V. Kesimpulan

Kabar terbaru dari kalangan kekristenan ialah telah diedarkan chip 666 melalui jarum suntik. Umat Kristen sudah sangat mengenal angka 666, jika bebicara tentang bilangan 666 seluruh orang kristen tahu bahwa bilangan tersebut mengacu pada gerakan Antikristus yang ingin mengontrol dunia (Wahyu 13: 17-18) melalui dunia ekonomi. Seara garis besar dunia ekonomi mengenal dua sistem ekonomi yakni, sosialis dan kapitalis. Sosialis identik dengan komunis, sedangkan kapitalis identik dengan liberalisme.
Banyak pengamat ekonomi sangat paham, jika bebicara tentang dua sistem ekonomi tersebut, maka tidak terlepas dari dunia politik. Tetapi banyak dari para ekonom dan politikus yang tidak memahami bahwa, dibalik dua sistem ekonomi-politik tersebut terselumbungan kekuatan agama. Jika Anda membaca buku-buku dan catatan-catatan pidato Karl Marx, Engels, Lenin dan Stalin, Anda akan mendapatkan bahwa, tokoh-tokoh ini menjanjikan akan dunia yang bahagia, tanpa kelas-kelas dalam masyrakat. Tidak ada lagi negara, tidak ada lagi jalan politik. Ekonomi Internasional akan mengantikan politik Internasional, dunia ini akan menjadi satu dunia (bersatu), untuk mencapai dunia yang demikian kelas-kelas sosial dalam masyrakat harus dihapuskan, negara-negara dunia harus dipersatukan, dunia tanpa negara berarti dunia adalah negara (satu negara dunia).
Kaum sosialis memandang Agama seperti yang dikatakan Lenin dalam bukunya Ueber Religion bahwa, agama adalah semacam minum keras bagi jiwa, sehingga budak kapitalis lupakan akan nilai sebagai manusia dan tidak menuntut haknya yang layak sebagai manusia. Tanggal 15 April 1841 di Jena, Karl Marx mendapat gelar doktor atas desertasinya tentang filsafat-alam dari Epicorus, Marx memandang bahwa, Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya manusia yang menciptakan Tuhan. Karena itu Alam dan manusia itulah yang benar.
Dari sini kita dapat memahami bahwa, pergolakan sistem politik dan ekonomi sosialis-komunis didasarkan atas pergumulan batin tentang Tuhan dan dunia yang bahagia dari Karl Marx. Bagaimana dengan kapitalis? Awalnya kapitalis adalah sistem yang ideal dalam pandangan iman Kristen, Tuhan Yesus menasehati murid-muridnya tentang kecukupan yang diberikan Tuhan pada setiap manusia (Matius 6:25-34), dan Rasul Paulus menekankan hal ini dalam Filipi 4:19 bahwa, Tuhan akan memberi kecukupan. Tetapi dalam prakteknya sistem kapitalis berubah menjadi liberalis atau yang disebut Yesus Kristus mammonisme (memberhalakan uang), uang menjadi ukuran segal-galanya. Jika sosialis memandang manusia dan alam adalah Tuhan, maka Kapitalis memandang uang adalah Tuhan.
Tujuan terciptanya faham-faham ekonomi tersebut adalah keinginan manusia akan dunia yang damai. Akankah manusia dapat menciptakan kedamaian di dunia? Jelas tidak! Hanya Yesus Kristus pembawa damai itulah sebabnya Dia disebut raja damai. Kristus datang pada manusia membawa kedamaian dengan kasih Allah (Agape). Tetapi Setan pun tahu akan pengharapan manusia akan damai di dunia, maka Setan dan segala pengikutnya akan memberikan damai yang palsu dengan Raja damai yang palsu yakni Antikristus (mengantikan atau melawan Kristus) 1 Tesalonika 5:3. Jika Tuhan Yesus Kristus membawa damai bagi dunia dengan kasih Allah (Agape), maka Raja damai Palsu (Antikristus) membawa damai yang palsu pada manusia dengan kasih manusia (Philio).
Dengan pimpinan Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur (Wahyu 17:5). Siapakah Babel besar? Jika berbicara tentang Babel, maka identik dengan organisasi manusia pertama secara global (Lihat Kejadian 11), Babel adalah organisasi manusia yang menentang Allah. Lalu apa hubungannya dengan Kerajaan Antikristus? Hubungannya sangat erat, karena pada akhir zaman Antikristus akan mendirikan sebuah organisasi yang menglobal yang melawan Allah dengan semboyon persatuan manusia. Apakah Organisasi itu?
Jelas organisasi global yang didirikan Antikristus tidak seperti yang dipikirkan banyak orang bahwa, organisasi ini identik dengan kekerasan. Organisasi ini didirikan dengan semboyan persatuan manusia, jelas ini mengindikasikan pada kedamaian. Organisasi ini adalah organisasi yang besar atau yang dikenal dengan istilah Oikomene. Oikumene adalah gerakan yang mengiring seluruh dunia kepada satu wadah organisasi. Hal ini sangat jelas sekali dengan semboyon Oikumene, Love Unify, doctrine divide (kasih mempersatukan, pengajaran memisahkan). Kasih yang didengungkan Gerakan Oikumene adalah kasih manusia (toleransi tanpa memperbaiki kesalahan). Gerakan oikumene memiliki hubungan dengan gereja, dalam Wahyu 17: 5 disebutkan Babel besar, wanita pelacur. Ibu atau wanita dalam Wahyu ini berbicara tentang gereja yang menjual mahkota yang berharga untuk mendapat pengakuan dari sesama. Apa mahkota berharga dari gereja? Jelas Doktrin atau pengajaran, gereja tanpa pengajaran sama seperti perkumpulan-perkumpulan keluarga, arisan dan organisasi yang hanya terpusat pada kepentingan manusiawi. Jadi Antikristus pada akhir zaman akan menwujudkan kerajaannya melalui Organisasi gereja yang besar, yang melacurkan doktrin..
Kehadiran Gereja lokal dan Independen di dunia akan sangat menghambat globalisai Antikristus melalui Organisasi Gerakan Oikomene, sebab gereja lokal dan Independen sangat bergantung penuh pada firman Tuhan. Gereja lokal dan Independen tidak dapat diintervensi untuk berada dalam satu naungan organisasi, dan hal yang paling sulit adalah mempersatukan gereja lokal dan independen dalam satu wadah organisasi tanpa mempersalahkan doktrin. Sebab secara tulus dan murni gereja lokal dan independen yang Alkitabiah akan tetap menyatakan kesalahan jika ada suadara, atau teman dalam satu organisasi tersesat (2 Timotius 3: 14-16; Yakobus 5:19-20). Dan ini merupakan cara Tuhan untuk mengantisipasi gobalisasi gerakan Antikristus, sedang konsep gereja universal atau Am yang dibangun di atas dasar pemikiran filsafat merupakan bagian dari program Antikristus.