Gerakan karismatik merupakan bentuk baru dari Montanisme yang pernah ada tahun 160-400 M, Montanus menyatakan bahwa di dalam dirinya sudah datang roh penolong yang telah dijanjikan Yesus dan dengan dibantu Priscilla dan Maximilla dua nabiah yang selalu memanifestasikan fenomena berbahasa lidah dan kadang-kadang berekstase sampai tak sadarkan diri, gerakan Montanisme berkembang dengan pesat dari Asia kecil sampai Afrika Utara, namun gerakan ini pun pudar dan hilang sekitar tahun 400 M.

Memasuki abad ke-20 bentuk baru dari Montanisme muncul kembali dengan menamakan diri Pentakosta modern atau yang lebih dikenal dengan gerakan Karismatik. Di bawah pimpinan Charles F Parham gerakan sinkritisme Kristen ini pun berkembang dengan pesat ke seluruh dunia dan menjamur ke seluruh Asia termasuk di Indonesia.

Di Asia gerakan ini mendapat tempat yang istimewah terutama Indonesia, hal ini disebabkan kultur dan kegemaran orang-orang asia terhadap kepercayaan-kepercayaan mistik dan terhadap hal-hal yang supranatural.

Sejak Demos Shakarian membentuk Full gospel bussines men’s international fellowship, gerakan Karismatik berkembang dengan pesat di kalangan pengusaha Kristen. Pada umumnya para pengikut gerakan Karismatik tidak mengetahui latar belakang sesungguhnya dari gerakan ini, melalui kejadian-kejadian fenomenal yang didemostrasikan dalam tiap-tiap kebaktian itulah yang menjadi dasar kepercayaan mereka bahwa gerakan karismatik ialah manifestasi Roh Kudus dalam kekristenan, namun benarkah demikian? Mari kita telusuri.

I. Peringatan Tuhan Yesus Kepada Orang Kristen Sejati mengenai penyesatan di Akhir Zaman

Setiap kali membicarakan mengenai akhir zaman, Tuhan Yesus Kristus selalu menyinggung mengenai penyesatan dan kesesatan yang akan terjadi dalam kekristenan. Semua peringtan dan nasehat Tuhan Yesus mengenai penyesatan dan kesesatan selalu sama, bahwa akan datang mereka yang menyatakan diri sebagai yang diurapi dengan mengunakan nama Yesus dengan tujuan untuk menyesatkan orang Kristen (Matius 24: 5, 24, Luk. 21: 8).

Para penyesat akan mendapatkan pengikut yang lebih banyak daripada kelompok orang Kristen sejati, karena para penyesat memakai nama Yesus menampilkan fenomena-fenomena yang menakjubkan mata dan mengesankan hati, sehingga banyak orang mengikuti mereka bahkan ada juga orang Kristen sejati yang terperdaya oleh fenomena-fenomena kesesatan penyesat (Mat. 24: 24). Itulah sebabnya mereka mendapat pengikut yang banyak sebab, “di mana ada bangkai di situ burung nazar berkumpul” (Mat. 24: 28).

II. Para Penyesat Memberi Solusi Kebutuhan Dasar Orang-orang Kristen duniawi

Orang-orang kristen duniawi mencari Tuhan bukan untuk memuliakan Tuhan melainkan untuk memuaskan keinginan hati (2 Tim. 4: 3-4), oleh karena itu Injil yang benar tertutup untuk mereka (2 Kor. 4:3-4). Setan dan pengikutnya sangat memahami kebutuhan dasar yang dicari orang-orang kristen duniawi dalam mencari Tuhan, sehingga dengan sangat licik mereka mengunakan nama Yesus untuk memperdayakan orang-orang kristen duniawi dengan memenuhi kebutuhan dasar mereka (2 Kor. 11:3-4).

Kesehatan, kekayaan, kesejahteraan, ketentraman dan ramalan masa depan mengenai kesuksesan itulah yang dicari orang-orang kristen duniawi dalam mencari Tuhan (tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran). Pencarian orang-orang kristen duniawi akan hal-hal duniawi dalam kehidupan rohani dijawab Setan dan pengikutnya dengan sangat baik.

Setan dan pengikutnya menyamar seperti domba di tengah-tengah serigala dalam komunitas kekristenan (Mat. 7: 15). Demi mensukseskan program kesesatan mereka, maka mereka mengunakan nama Yesus Kristus disertai mujizat-mujizat, tanda-tanda yang dashyat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga (Mat. 24: 24).

Anda yang ingin kaya, ada gereja yang selalu menawarkan berkat; Anda yang ingin kesembuhan, ada gereja yang menawarkan minyak urapan; Anda yang takut Setan, ada gereja yang menawarkan usir setan; Anda yang senang dengan musik duniawi, banyak gereja yang bernyanyi secara duniawi dengan kata-kata rohani (lihat tulisan saya, Musik Surgawi); Anda yang suka fasion show, ada juga gereja yang selalu menampilkan fasion show dalam kebaktian-kebaktian mereka. Intinya ialah orang-orang kristen duniawi mencari Tuhan hanya untuk memuaskan keinginan hati bukan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Mari kita kupas tuntas satu persatu mengenai penyimpangan dalam gerakan Karismatik berdasarkan Alkitab.

BAHASA ROH

Gerakan Karismatiklah yang mempopulerkan bahasa Roh saat ini, kebanyakkan dari mereka yang berbahasa roh adalah hamba-hamba Tuhan yang menyebut dirinya “yang diurapi.” Mereka beranggapan bahwa karunia berbahasa Roh adalah bukti kebangkitan gereja dan bukti bahwa Tuhan sungguh-sungguh ingin memakai orang yang berbahasa Roh, tetapi benarkah demikian yang diajarkan Alkitab?

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa manusia diberikan karunia bahasa Roh (1Kor. 14:2), manusia hanya diberikan karunia bahasa lidah (lihat Alkitab bahasa yunani; kata glossai artinya kata-kata lidah. Untuk lebih jelas lagi, Anda bisa mengikuti kelas Dance Suat Bible Class) oleh Roh Kudus (1 kor. 14:22).

Gerakan Karismatik mengklasifikasikan bahasa Roh berdasarkan 1 Kor. 13:1, sehingga bahasa Roh gerakan Karismatik adalah ocehan yang indah, yang dibuat-buat bahkan dihafal seperti mantra. Gliddy glup gloopy nibby nabby noppy la la la lolo. Sabba sibby nooby abba nabba le le lo lo. Tooby ooby walla nobby abba nabba, kata-kata dari suku kata yang tidak memiliki arti apa-apa itulah yang sering diucapkan dalam bahasa Roh gerakan Karismatik.

Alkitab tidak pernah mengajurkan orang berbahasa Roh ala gerakan Karismatik, sebaliknya Lucifer si Malaikat teranglah dalang dari kekacauan, kesurupan, dan ekstase dalam kepenuhan Roh ala gerakan Karismatik (1 Kor.13: 1, Kolose 2: 18). Kekacauan, kesurupan serta ekstase bukanlah cerminan dari kuasa Allah, karena Allah tidak menghendaki kekacauan (1 Kor. 14: 33), Allah ingin segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur ( 1 Kor. 14: 40) berdasarkan pada pengertian yang benar ( Roma 12:2, Ef. 5:17).

Karunia bahasa lidah yang dituliskan dalam Alkitab sangat berhubungan erat dengan proses pewahyuan lisan (1 Kor. 13: 8-13). Pada hari pentakosta rasul-rasul secara supranatural diberikan karunia bahasa lidah oleh Roh Kudus sehingga tanpa mengikuti kursus bahasa, mereka dapat berbicara dengan dialek orang-orang asing yang hadir di Yerusalem pada saat itu. Rasul-rasul yang berbicara dalam dialek bangsa-bangsa asing pada waktu tidak dalam kondisi mabuk (Kis. 2: 14-15), tidak seperti yang selalu dipertunjukkan gerakan Karismatik saat ini, yang selalu mabuk, kacau dan ekstase.

Tujuan dari Roh Kudus memberikan karunia bahasa lidah secara supranatural kepada para Rasul pada hari pentakosta ialah supaya rasul-rasul dapat menyampaikan pesan Injil kepada orang-orang asing yang tidak memahami bahasa Ibrani pada waktu itu (Kis. 2: 8) dalam bahasa mereka masing-masing. Tercatat dalam Alkitab bahwa pada hari pentakosta banyak orang percaya pada Injil dan diselamatkan.

Selanjutnya karunia bahasa lidah yang diberikan secara supranatural oleh Roh Kudus kepada seseorang ialah untuk menyampaikan wahyu lisan kepada jemaat setempat, tujuannya untuk membangun iman jemaat pada masa para rasul (karena pada waktu itu belum ada firman tertulis secara utuh seperti sekarang, maka Allah mengunakan bahasa lidah sebagai firman lisanNya), oleh sebab itu apabila ada orang yang berbahasa lidah maka harus juga bisa menafsirkannya (1 Kor. 14: 13).

Selain itu juga, karunia bahasa lidah merupakan bentuk pernyataan Allah kepada orang Yahudi dan non-Yahudi yang tidak percaya, bahwa Injil adalah milik semua bangsa dan semua bangsa berhak mendapatkan karunia keselamatan bukan lagi milik orang Yahudi secara khusus. “Karena itu KARUNIA BAHASA LIDAH ADALAH TANDA, bukan untuk orang yang beriman, tetapi UNTUK ORANG YANG TIDAK BERIMAN….”(1Kor. 14:22). Tujuan karunia bahasa lidah yang tercatat dalam Alkitab sangat berbeda dengan BAHASA ROH ALA KARISMATIK yang tidak ada tujuan, manifestasinya penuh kekacauan, ekstase, kata-kata yang diucapkan tidak berarti apa-apa dan yang paling mengerikan adalah memutar-balikkan firman, bahwa BAHASA ROH ialah UNTUK ORANG BERIMAN.

Karunia bahasa lidah yang tercatat dalam Alkitab tidak permanen, hanya diberikan kepada jemaat mula-mula pada zaman rasul-rasul (1 Kor. 13: 8-10), oleh karena hanya rasul-rasullah yang diberikan otoritas untuk menyatakan dan membuktikan kebenaran isi dari bahasa lidah yang diucapkan sebagai wahyu dari Allah (karena rasul-rasul adalah pemegang otoritas wahyu lisan) 2 Kor. 12: 12.

Sejarah memberikan konfirmasi bahwa karunia bahasa lidah merupakan cara Roh kudus berbicara Injil di dalam semua bangsa, tujuannya untuk menyatakan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua bangsa dan milik semua bangsa di dunia. Dan karunia bahasa lidah sudah berakhir seturut dengan wafatnya pemegang otoritas tertinggi wahyu lisan yakni para rasul. Sekarang Roh Kudus mengunakan wahyu tertulis yakni Alkitab untuk menyatakan Injil kepada semua bangsa di dunia. Oleh sebab itulah Alkitab sudah diterjemahkan dalam semua bahasa nasional di dunia bahkan sudah dalam bahasa suku.

Bila karunia bahasa lidah dalam Alkitab digunakan Roh Kudus untuk menyatakan Injil di dalam semua bangsa di dunia, maka karunia bahasa Roh ala gerakan Karismatik ialah cara seseorang (bisa juga Setan) mengsugesti diri untuk mengalami pemulihan jiwa secara psikologi bukan secara rohani, sebab itu tidak jarang orang yang berbahasa roh ala gerakan Karismatik seperti orang mabuk dan ekstase. Waspadalah jangan percaya kepada setiap roh (2 Kor. 11:3-4), tapi ujilah roh-roh itu (1 Yoh. 4:1).

Pada zaman para rasul setiap orang percaya dianjurkan untuk mengejar karunia-karunia rohani termasuk bahasa lidah dan nubuat (1 Kor.14: 22). Maka PADA MASA KITA SEKARANG DIANJURKAN UNTUK MENGEJAR IMAN, PENGHARAPAN DAN KASIH, tidak lagi dianjurkan untuk mengejar wahyu lisan dalam bentuk apapun termasuk bahasa lidah dan nubuat, karena Alkitab sudah menjadi firman Allah satu-satunya yang absolut yang tidak boleh ditambah atau dikurangi (wahyu 22:18-19).

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir, bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan akan lenyap (1 Kor. 13: 8). Mari kita analisa frasa bahasa lidah akan berhenti dalam tata bahasa yunani (yunani eite glossai pausontai). Kata pausantai merupakan bentuk orang ketiga jamak, future, middle, deponen indicative dari kata pauw( Wesley J. Perschbacher, The New Analytical Greek Lexicon, hal., 317) yang berarti akan berhenti sendiri (walaupun dalam tata bahasa yunani middle selalu bermakna pasif namun karena dalam bentuk deponent verb maka berfungsi aktif, sedangkan indicative mempresentasikan suatu realita nyata).

Kata pausantai (itu {bahasa lidah} akan berhenti sendiri) menjelaskan bahwa bahasa lidah akan berhenti dengan sendiri secara otomatis bila telah mencapai tujuannya .Oleh karena semua bangsa sudah mendengarkan dan memiliki Injil sebagai karunia keselamatan dari Allah melalui Alkitab, maka tujuan dari karunia bahasa lidah telah tercapai. Berarti sekarang secara otomatis bahasa lidah tidak lagi digunakan Allah untuk menyatakan wahyuNya, sebaliknya Setan dan pengikutnyalah yang mengunakan untuk menyesatkan manusia sekarang.

G F Rendal seorang bekas pengikut gerakan Karismatik memberikan kesaksian dan pernyataan dalam bukunya I Speak in Tangues More Than You All, bahwa bahasa Roh ala gerakan Karismatik adalah kesalahan dan kesesatan dalam memahami pewahyuan Allah. Oleh karena itu, saya dengan penuh kasih menyarankan saudara-saudari yang berbahasa Roh dan yang mengajarkan bahasa Roh dalam gereja ala gerakan Karismatik untuk bertobat dan kembali kepada kebenaran Alkitab sebagai otoritas tertinggi dari wahyu Allah saat ini. Bertobatlah sebelum terlambat!

JANGANLAH KAMU MEMBIARKAN KEMENANGANMU DIGAGALKAN OLEH ORANG YANG PURA-PURA MERENDAHKAN DIRI DAN BERIBADAH KEPADA MALAIKAT, SERTA BERKANJANG PADA PENGLIHATAN-PENGLIHATAN DAN TANPA ALASAN MEMBESAR-BESARKAN DIRI OLEH PIKIRANNYA YANG DUNIAWI. KOLOSE 2: 18. (Tulisan selanjutnya mengupas mengenai Setan Usir Setan Mengunakan nama Yesus ala Gerakan Karismatik).

Oleh: Dance S Suat