elompok Karismatik tidak bisa membeda dan tidak mau melihat perbedaan antara mujizat dan karunia melakukan mujizat. Kesanggupan Allah melakukan mujizat tidak diragukan sepajang zaman, bahkan mujizat terbesar yang terjadi dalam hidup orang percaya ialah dosa dihapuskan dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.

Mujizat adalah suatu peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam atau bertentangan dengan apa yang biasanya terjadi. Sedangkan karunia melakukan mujizat adalah pemberian kemampuan kepada seseorang untuk melakukan mujizat. Mujizat pertama kali terjadi yakni Henokh diangkat Allah ke Surga (Kej. 5: 24), sedangkan orang pertama yang mendapatkan karunia melakukan mujizat dari Allah adalah Musa (Kel. 7: 9; 19:9).

Mujizat

Allah tetap sanggup melakukan mujizat dan terus melakukan mujizat sampai sekarang, bahkan mujizat Allah tidak hanya sebatas hal-hal yang bersifat badani dalam hidup manusia saja, sebagaimana kalangan karismatik memahami mujizat Allah.

Dilain pihak, orang-orang Kristen dan gereja-gereja percaya sepenuhnya bahwa masa kini pun mujizat kesembuhan Ilahi itu masih dapat terjadi, yaitu yang sakit itu percaya penuh kepada Kristus (Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia, hal., 131-132)

Pada umumnya mujizat yang digembar-gemborkan kalangan Karismatik adalah mujizat-mujizat yang berhubungan dengan keadaan fisik manusiawi. Menurut kalangan Karismatik Iblislah penyebab utama adanya penyakit (Ibid. hal., 133), oleh sebab itu hanya orang percayalah yang dapat mengalami mujizat kesembuhan seperti dari pernyataan di bawah ini;

Pokok-pokok Alkitab yang harus ditekankan dalam memberitakan tentang kesembuhan Ilahi, adalah bahwa kesembuhan tersebut telah disediakan oleh Tuhan bagi setiap orang percaya (Ibid. hal., 137)

Mujizat Allah tidak hanya sebatas hal-hal yang bersifat manusiawi sebagaimana yang ditekankan gerakan Karismatik dalam kebaktian-kebaktian kesembuhan Ilahi mereka, namun juga menyangkut hal-hal yang bersifat surgawi. Dan bukan hanya dikhususkan untuk orang percaya, namun orang yang tidak percaya pun dapat mengalami mujizat Allah.

Hamba seorang perwira di Kapernaum (Luk. 7: 1-10), sembilan dari sepuluh orang kusta (Luk. 17: 11-19), anak perempuan dari Kanaan (Mat. 15:21-28), kisah kebangkitan Lazarus (Yoh. 11). Kasus-kasus ini adalah orang-orang yang mengalami mujizat bukan karena iman mereka. Hal ini sangat berbeda dengan pelayanan gerakan Karismatik yang selalu mengsuggesti orang yang tidak mengalami kesembuhan, bahwa mereka tidak beriman atau mereka kurang iman.

Allah dapat menyatakan mujizatnya kepada siapa saja, dan mujizat Allah yang dinyatakan kepada seseorang tidaklah di-blow up seperti yang dilakukan banyak hamba-hamba Tuhan gerakan Karismatik dengan iklan-iklan, poster-poster dan spanduk-spanduk di jalan, yang seolah-olah menyatakan kepada dunia disekitarnya, bahwa hanya melalui mereka Allah sanggup mendemostrasikan mujizat.

George Muller tercatat dalam sejarah sebagai seseorang yang banyak mengalami mujizat Allah dalam hidupnya. Allah memimpin hidup dan pelayanan George Muller dengan sangat menakjubkan, yang banyak dijadikan teladan dan yang mengispirasikan banyak pelayan Tuhan di dunia. Namun George tidak pernah show of power dengan hal-hal yang dialami, hal ini sangat berbeda dengan kalangan Karismatik sekarang.

Mujizat Allah bukan untuk di blow up dan bukan digunakan sebagai ajang show of power. Mereka yang mengunakan mujizat Allah sebagai ajang blow up dan show of power di akhir zaman ini adalah pengikut Lucifer, sebagaimana yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam Matius 24: 24, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dashyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekirangnya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Para pengikut Lucifer yakni yang diurapi-yang diurapi palsu dan nabi-nabi palsu mem-blow up dan show of power mujizat dengan tujuan mengalihkan Injil yang benar atau kehendak Allah kepada para pendengar mereka. Itulah sebabnya kebaktian-kebaktian yang mereka adakan bukan dengan tujuan untuk bertumbuh dalam kebenaran, melainkan terfokus pada mujizat yang di blow up, mereka ini adalah penyesat dan pembuat kejahatan, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23;

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang MELAKUKAN KEHENDAK BAPA-KU YANG DI SORGA. Pada hari terakhir banyak orang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan bukan KAMI BERNUBUAT DEMI NAMA-MU, DAN MENGUSIR SETAN DEMI NAMA-MU, DAN MENGADAKAN BANYAK MUJIZAT DEMI NAMA-MU JUGA? Pada waktulah Aku akan berterus terang kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal kamu! ENYALAH DARI PADA-KU, KAMU SEKALIAN PEMBUAT KEHAJATAN!”

Waspadalah supaya jangan sampai Anda disesatkan dan menyesatkan. Kehendak Tuhan ialah supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim. 2:3-4) melalui segala hikmat dan pengetahuan yang benar (Kol. 1:9). Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya mengerti kehendak Allah, supaya dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Allah (Ef. 5:17, Rom.12: 2).

Karunia Melakukan Mujizat

Para pengikut gerakan Karismatik selalu meng-kultus-kan (menokohkan) hamba-hamba Tuhan mereka, yang sanggup mendemostrasikan mujizat-mujizat yang luar biasa. Para pengikut Karismatik menyimpulkan, bahwa hamba-hamba Tuhan yang sanggup mendemostrasikan mujizat-mujizat yang luar biasa adalah orang yang dipakai Tuhan dengan sangat luar biasa. Bahkan pernyataan-pernyataan hamba-hamba Tuhan demikian ditelan mentah-mentah, karena takjub dengan kuasanya yang dimiliki mereka.

Pengkutusan yang berlebih-lebihan terhadap seorang hamba Tuhan karena kuasa melakukan mujizatnya, membuktikan bahwa orang kristen yang demikian tidak memahami Alkitab dan bisa dikategorikan bodoh secara rohani (Ef. 5:15-17). Orang kristen demikianlah yang mejadi sasaran utama para penyesat, dan ternyata orang Kristen tipe ini sangat banyak saat ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri sangat pesimis akan keberadaan orang-orang Kristen sejati pada waktu kedatanganNya kembali (Luk. 18:8).

Yohanes Pembaptis seorang yang dipakai Allah dengan sangat menakjubkan, namun tidak pernah melakukan tanda dan mujizat (Yoh. 10: 41). Mengapa? Bukankah hal ini bertolak belakang dengan pengkultusan di kalangan Karismatik?

Rasul Paulus memberikan alasan tersebut dalam 2 Korintus 12:12, bahwa karunia mujizat adalah bukti kerasulan. Tuhan menaikkan kewibawaan rasul-rasul sebagai penyampai firman lisan dihadapan orang banyak dengan tujuan membuktikan kepada orang banyak, bahwa perkataan mereka benar dari Allah.

Itulah sebabnya Tuhan memberikan Karunia Melakukan Mujizat kepada Musa dengan tujuan meneguhkan firman lisan yang disampaikan Musa kepada orang-orang Israel di Mesir. Karunia melakukan mujizat merupakan peneguhan kesaksian wahyu lisan yang disampaikan oleh rasul dan nabi (2 Kor. 12:12, Ibr. 1:3-4), bukan seperti yang didemonstrasikan para hamba Tuhan yang diurapi dalam gerakan Karismatik saat ini.

Tuhan memberikan kuasa kepada rasul-rasul karunia melakukan mujizat dengan tujuan megangkat kewibawaan rasul-rasul sebagai pemegang otoritas wahyu lisan dan penulis Alkitab (1Yoh. 1: 1-4). Itulah sebabnya tercatat di dalam Alkitab hanya rasul-rasullah yang mendapat karunia melakukan mujizat diantara orang percaya ( Kis. 2: 43; 4: 33; 5: 12), dan itulah sebabnya juga mengapa kanon PB hanya 27 ( sebab ada 3 syarat sebuah kitab sah diakui sebagai kanon PB; 1. Harus tulisan Rasul 2. Harus didukung oleh Rasul {seperti Injil Markus} 3. Harus dibaca oleh Rasul {oleh sebab itulah kitab wahyu adalah kitab yang terakhir, karena Rasul Yohaneslah yang terakhir wafat}).

Syarat seseorang menjadi rasul adalah seseorang yang turut dalam pelayanan Tuhah Yesus selama di bumi (Kis. 1:21) dan seseorang yang dimulai dari baptisan Yohanes sampai Tuhan Yesus terangkat ke Sorga (Kis. 1:22). Sedangkan Rasul Paulus adalah rasul yang dipilih Tuhan secara khusus dengan cara yang khusus juga Tuhan menetapkannya sebagai rasul (1 Kor. 15:8). Oleh sebab itu, apabila sekarang ada yang mengakui dirinya sebagai rasul maka orang tersebut adalah rasul palsu. Dan bila ada kuasa beserta karunia mujizat darinya maka itu adalah perbuatan Lucifer bukan Tuhan (Mat. 24: 5, 24).

Oleh karena itu, karunia melakukan mujizat hanya diberikan kepada rasul sebagai bukti kerasulan (2 Kor. 12:12) dan peneguhan otoritas sebagai penyampai wahyu Allah (Ibr. 1:3-4). Maka kuasa karunia melakukan mujizat sudah tidak diberikan Tuhan kepada siapapun saat ini, seturut dengan kepulangan rasul-rasul ke Sorga. Namun apabila sekarang ada yang menyatakan diri, bahwa mendapat kuasa karunia melakukan mujizat, maka hal tersebut bukan dari Tuhan melainkan dari Lucifer (Mat. 7:21-23; 24:24). Apabila Setan dapat memberikan karunia kesembuhan kepada dukun, terlebih lagi kepada dukun rohani yang mengatasnamakan Tuhan Yesus. Waspadalah supaya Anda tidak tersesat dan menyesatkan!

Markus 16: 17-20

Markus 16:17-20 adalah bagian favorit gerakan Karismatik. Bagian firman Tuhan ini dipakai untuk meyakinkan diri sendiri dan pengikutnya, bahwa karunia melakukan mujizat masing ada sampai sekarang. Namun benarkan para Karismatikisme benar-benar memahami bagian ini ataukah hanya sebuah kamuflase untuk membenarkan kesalahan mereka? Mari kita analisa verbal grammatikal berdasarkan teks asli Alkitab.

Markus 16:17 -18 mencatatkan secara berurut tanda dan karunia mujizat yang diperoleh oleh orang-orang yang percaya. Kata “ mereka {orang-orang} yang percaya (Markus 16:17) berasal dari kata bahasa yunani “tois pisteusasi” (bentuk ; datif, jamak, aorits aktif. participle. Wesley J. Perschbacher, The New Analytical Greek Lexicon, hal., 329).

Pengunaan aorist dalam tata bahasa yunani adalah bentuk lampau dari kata kerja, sedangkan participle adalah kata kerja yang berfungsi sebagai kata kerja maupun kata sifat. Aorit aktif participle menyatakan perbuatan pada satu titik waktu tertentu (punctiliar) atau tidak terus menerus. Kata “tois pisteusasi” aorit aktif participle, pengunaannya adalah atributive (menjelaskan kata kerja).

Jadi bila diterjemahkan Markus 16: 17 berbunyi,”Tanda-tanda sesudah orang-orang percaya….” Bila mengacu pada pengunaan aorist aktif participle maka orang-orang percaya yang dimaksud Markus 16: 17 adalah orang-orang percaya pada waktu tersebut, bukan sampai sekarang. Apabila tidak sampai sekarang, sampai kapankah tanda-tanda sesudah orang percaya menerima karunia-karunia mujizat Markus 16: 17-18? Untuk menjawab ini, mari kita lihat ayat 20 bagian terakhir, “ dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”

Kata Tuhan turut bekerja berasal dari kata bahasa yunani tou kuriou sunergountos. Kata sunergountos adalah bentuk genetik, tunggal, maskulin, present, aktif, indicative, participle dalam pegunaan predicate (menyatakan aksi yang nyata atau rill, { Wesley J. Perschbacher, Ibid, hal.,392}). Apabila mengacu pada present aktif indikative maka aksi yang nyata dinyatakan sezaman dengan aksi kata kerja utama. Bila diterjemahkan kata tou kuriou sunergountos maka bunyinya, “Tuhan yang mengerjakan itu” (mengerjakan sezaman dengan karunia-karunia mujizat).”

Kemudian kata “dan meneguhkan firman itu” berasal dari kata yunani kai tou logon bebaiountos. Kata bebaiountos adalah bentuk genetif, tunggal, maskulin, present aktif, participle dalam bentuk predicate (Wesley J. Perschbacher, Ibid, hal., 69). Bila particple dalam posisi predicate itu menjadi sesuatu sementara, maka diterjemahkan dengan bilamana. Maka terjemahannya berbunyi, “ dan bilamana meneguhkan firman itu.”

Kata yang terakhir yang akan kita analisa adalah dia twn epakolouthountow semeiwn ( dengan tanda-tanda yang menyertainya). Kata twn epakolouthountwn adalah bentuk genetif, jamak, netral, present, aktif, participle dalam bentuk atributive. Bila diterjemahkan maka berbunya, “ melalui tanda-tanda yang menyertai.”

Apabila diterjemahkan keseluruhan bagian terakhir dari Markus 16: 20 berbunyi, “ Tuhan yang mengerjakan itu, dan bilamana meneguhkan firman itu melalui tanda-tanda yang menyertai.”

Jadi berdasarkan grammatikal verbal pleanry Markus 16:17-20. Tanda-tanda sesudah orang-orang percaya, yang berhubungan dengan karunia-karnia melakukan mujizat dalam Markus 16:17-18 hanya berlaku pada orang-orang percaya pada masa itu, yang meneguhkan kesaksian firman Allah. Dan tercatat di dalam Alkitab, bahwa rasul-rasullah yang meneguhkan kesaksian Injil (Allah menjadi manusia, mati sebagai manusia di kayu salib, dan bangkit memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya padaNya sebagai juruselamat) melalui karunia-karunia mujizat.

Melalui exegesis Markus 16:17-20, semakin jelas bahwa Karunia melakukan mujizat hanya diberikan kepada para rasul untuk menaikkan wibawa mereka sebagai penyampai wahyu lisan. Dan karunia melakukan mujizat dari Tuhan sudah tidak ada bersamaa dengan kembalinya rasul-rasul ke Surga dan keberadaan Alkitab sebagai firman absolut di tangan orang-orang percaya sekaran.Apabila ada orang yang mengatakan mendapat karunia melakukan mujizat, maka orang tersebut mengenapi Matius 24: 24. Waspadalah terhadapnya!

Saya selalu mengharapkan mujizat terjadi dalam hidup dan pelayan saya, namun saya tidak mengakui karunia melakukan mujizat sebagai karunia Allah sekarang. Saya ingin menyampaikan dengan tegas berdasarkan firman Allah, bahwa karunia melakukan muzijat yang diterima beberapa pelaku mujizat adalah perbuatan Setan!

Bagi Anda yang membaca tulisan ini dan berpendapat berguna, bagikan kepada sebanyak mungkin orang. Dan bagi Anda yang berpendapat tulisan ini merugikan orang lain, silahkan buat bantahan yang Alkitabiah supaya dapat menjadi bahan pendewasaan iman! Tuhan Yesus menyertai, Maranata!

Oleh: Dance S Suat