LATAR BELAKANG NATAL 25 DESEMBER

Natal berasal dari bahasa Latin yang artinya Lahir, berasal dari kata Dies Natalis artinya perayaan hari jadi, yang meliputi; hari, tanggal, bulan dan tahun. Alkitab tidak pernah mencatat hari, bulan dan tahun kelahiran Yesus Kristus, kronologi catatan Alkitab mengenai kelahiran Yesus Kristus berhubungan dengan pengenapan nubuatan dalam kitab Perjanjian Lama. Lalu dari manakah penetapan perayaan hari kelahiran Yesus Kristus 25 Desember itu? Pada zaman para Rasul tidak ada gereja yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus atau hari Natal, bahkan gereja mula-mula tidak mengenal hari perayaan Yesus Kristus, ini dibuktikan dengan tidak ditemukan dalam Alkitab adanya jemaat yang merayakan Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus, dan rasul-rasul pun tidak memberikan pernyataan khusus untuk merayakan hari kelahiran Yesus Kristus atau Natal. Jika Rasul-rasul dan gereja mula-mula tidak pernah merayakan hari kelahiran Yesus Kristus atau Natal 25 Desember, lalu dari manakah tradisi Natal 25 Desember?

Perkembangan gereja sesudah masa para Rasul mengalami perubahan besar, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Beberapa kelompok Kristen tetap memegang teguh kemurnian ajaran para Rasul, dan tetap memegang konsep kemurnian gereja, namun sebagian besar gereja Kristen sesudah zaman para Rasul terpengaruh dengan konsep dunia kekafiran dan filsafat, hal ini disebabkan banyaknya tokoh-tokoh gereja yang berasal dari kalangan kafir dan filsuf yang tidak sepenuh meninggalkan konsep kekafiran dan filsafat sesudah menjadi kristen, sebut saja Marcion, “yang membedakan Allah perjanjian lama dan perjanjian baru” dan Marcion juga menolak mentah-mentah kitab perjanjian lama sebagai kanon. Ada lagi Montanus yang mempercayai nubuatan bohong dua nabiahnya Priscilla dan Maximilla yang mengatakan bahwa, “ semua pengikutnya harus melepaskan segala ikatan duniawi dan menantikan kedatangan Yesus Kristus di Pepusa (sebuah desa di Asia Kecil) pada waktu itu.” Perubahan besar dan munculnya bidat-bidat pada masa itu menyebabkan kemurnian dari ajaran gereja Kristen dinodai.

Puncak dari perubahan besar kemurnian ajaran gereja ialah pada saat Kaisar Roma Constantine mengumumkan dirinya sebagai orang Kristen (312 AD), dan mengambil alih kuasa gereja secara menyeluruh di bawah tangan pemerintah atau yang dikenal dengan Edict of Millan (313 AD). Sejak saat itu gereja di bawah kuasa tangan pemerintah, dan gereja pun digunakan sebagai kekuatan politik baru dalam kekaisaran Romawi, perubahan-perubahan dalam gereja tidak lagi didasarkan pada ketetapan Alkitab melainkan pada situasi politik yang menguntungkan kekuasan Romawi. Gereja di bawah kekaisaran Romawi bukan lagi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Timotius 3: 15), melainkan sebagai kekuatan politik baru dalam kekaisaran Romawi yang dapat memberikan keuntungan politik pada pemerintahan Romawi.

Kejayaan kekaisaran Romawi pada masa itu membawa ruang lingkup wilayah gereja semakin luas, dan gereja pun memainkan peran yang sangat penting dalam percaturan politik Romawi, beberapa kelompok kristen yang menyadari penyimpangan gereja-negara memisahkan diri dan tinggal ditempat-tempat terpencil dengan tujuan untuk menjaga kemurnian ajaran gereja yang telah diwarisi oleh para Rasul. Dan pada masa masa inilah ajaran gereja yang dicita-citakan para Rasul dinodai oleh dunia kekafiran, salah satu penghinaan kemurnian ajaran gereja adalah menetapkan dewa Matahari sebagai Yesus Kristus, dan mengubah hari perayaan dewa Matahari 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus.

Dunia kekafiran di Eropa mengenal tanggal 25 Desember sebagai hari raya dewa Matahari. Menurut tradisi kekafiran di Eropa tanggal 25 Desember merupakan titik balik matahari kembali ke Eropa atau posisi matahari berada tepat di garis lintang selatan (Eropa pada puncak musim dingin), dan Matahari akan bergeser ke Eropa, sehingga terjadi perubahaan musim ke musim semi. Pada tanggal 25 Desember sudah menjadi kebiasaan orang-orang kafir di Eropa untuk memuja dan menyembah  dewa Matahari karena kesetiaan dari dewa Matahari mengembalikan matahari ke Eropa setiap tahunnya. (lihat di Britinnica encyclopedia dan Americana encyclopedia mengenai Christmas). Adakah hubungannya 25 Desember dengan hari kelahiran Yesus Kristus? Jelas tidak! Karena antara dunia kekafiran dan dunia kekristenan merupakan dua dunia yang bertolak-belakang. Lalu mengapakah banyak orang Kristen sama dengan orang kafir yang membuat perayaan Natal 25 Desember?

Pada saat Kaisar Constantine menempatkan gereja sebagai suatu kekuatan politik baru dalam kekaisaran Romawi, maka fungsi gereja yang dicita-citakan Tuhan Yesus dan para Rasul mengalami penyimpangan. Gereja yang diharapkan Yesus Kristus adalah gereja yang dapat menopang kemurnian ajaran Alkitab, dan harapan Tuhan Yesus Kristus ini dinodai oleh ulah kaisar Constantine. Kaisar Constantine lebih mengutamakan peran gereja sebagai organisasi politik daripada sebagai organisasi Rohani, hal ini dibuktikan dengan menetapkan hari raya dewa Saturn 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus atau hari Natal, dan memaksa semua orang dalam kekaisaran Romawi pada masa itu, baik Kristen maupun kafir untuk merayaan perayaan 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus atau Natal. Dan semangat kekafiran tersebut dipopulerkan oleh Paus Liberius (354 AD), masih dilakukan orang Kristen sekarang dengan merayaan Natal 25 Desember.

PENJELASAN ALKITAB MENGENAI KELAHIRAN YESUS KRISTUS

Berita mengenai mengandungnya Maria, ibu jasmani Yesus Kristus disampaikan malaikat Gabriel dalam bulan yang keenam, “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,” (Lukas 1: 26). Kalimat, dalam bulan keenam menunjukkan bahwa, itu bulan keenam bukan enam bulan. Bulan keenam yang ditulis Injil Lukas berdasarkan penanggalan kalender Yahudi yang jatuh pada akhir september-awal oktober. Dari penjelasan Injil Lukas inilah diperkirakan Yesus Kristus mulai dikandung bulan september-oktober, dan secara alamiah Yesus harus berada dalam kandungan selama sembilan bulan. Jika dikandung pada bulan september-oktober dan dilahirkan pada tanggal 25 Desember, maka proses di dalam kandungan hanya tiga bulan (bila dihitung dengan penanggalan Yahudi, namun bila ada yang ingin menghitungnya dengan penanggalan sekarang maka prosesnya hanya enam bulan). Tidak seorang bayi yang hidup bila dilahirkan hanya berada tiga bulan dalam kandungan, dan Yesus Kristus adalah bayi yang lahir secara normal.

Berita mengenai kelahiran Yesus Kristus disampaikan Malaikat kepada gembala-gembala yang berada di padang (Lukas 2: 8-9). Dapatkah gembala-gembala berada di Padang pada tanggal 25 Desember? Ezra 10: 9 dan Yeremia 36: 22 mencatat bahwa pada bulan november-desember (bulan kesembilan penanggalan kalender Yahudi) adalah musim dingin dan hujan, suhu rata-rata di wilayah Bethlem pada bulan desember 7 derajat Celsius, kadang-kadang pada malam hari bisa di bawah nol, jarang ada salju tetapi bisa turun salju, dan sudah dapat dipastikan bahwa para gembala yang tinggal di wilayah itu memastikan diri agar mereka dan kambing domba mereka jangan sampai berada di luar rumah pada siang dan malam hari pada bulan desember. Dari penjelasan di atas sudah dapat dipastikan bahwa Yesus Kristus tidak lahir pada 25 desember.

Dan alasan lain Yesus tidak lahir bulan 25 desember adalah adanya Sensu yang dilakukan kaisar Agustus (Lukas 2: 1-3), Yusuf dan Maria harus melakukan perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang berjarak sekitar 70 mil atau ditempuh dengan 3-4 hari dengan jalan kaki, dan sudah dipastikan mustahil Yusuf dan Maria bisa sampai dengan selamat di Betlehem apabila melakukan perjalanan pada bulan desember. Dari penjelasan Alkitab mengenai kronologi kelahiran Yesus Kristus, sudah dapat dipastikan bahwa Yesus tidak dilahirkan pada 25 desember sebab pada waktu kelahiran Yesus Kristus kota Betlehem musim panas (Lukas 2: 8-12), dan ada bintang (Matius 2: 2), ini sangat kontradiksi dengan bulan desember yang musim dingin dan tidak ada bintang yang bersinar. Apabila dihitung berdasar Lukas 1: 26, maka kelahiran Yesus Kristus diperkirakan jatuh pada bulan juni-juli dan sangat sesuai dengan Alkitab bahwa pada bulan juni-juli adalah musim panas.

PANDANGAN ALKITAB MENGENAI HARI RAYA NATAL 25 DESEMBER

Tradisi memilihara hari Raya merupakan tradisi yang dimiliki setiap kebudayaan disetiap suku bangsa di dunia, hampir seluruh suku bangsa di dunia memiliki hari raya khusus dengan tradisi latar belakang berdasar sejarah dan mitos kebudayaan setempat. Karena inilah Paulus mengingatkan orang-orang percaya supaya tidak terikat oleh perayaan hari raya tertentu (Kolose 2: 16), dengan segala peraturan-peraturannya yang nampaknya penuh hikmat, tetapi semuanya ini tidak berguna bagi Tuhan selain untuk memuaskan hidup duniawi (Kolose 2: 23).

Perayaan Natal 25 desember  tidak pernah diperintahkan Alkitab,  yang mempopulerkan Natal 25 Desember Paus Liberius,  Alkitab tidak pernah memerintahkan untuk merayakan hari perayaan Tuhan Yesus Kristus, dan tercatat dalam Alkitab Tuhan Yesus Kristus selama hidup di dunia tidak pernah merayakan hari kelahirannya. Roma 14: 23,mengatakan bahwa, ”…segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” Dasar iman Kristen adalah Alkitab, jadi segala sesuatu yang tidak bertindak sesuai dengan Alkitab adalah dosa, Artinya yang merayakan perayaan Natal 25 Desember melanggar perintah Tuhan atau berdosa, karena mereka tidak melakukan perintah Tuhan sebaliknya mereka tunduk pada tradisi gereja yang diatur oleh manusia, Paus atau Gembala setempat (Kolose 2: 20-23), jangan jadi orang bodoh supaya kemenanganmu bersama dengan Kristus tidak digagalkan oleh orang tertentu (Kolose 2: 18-19).

SIKAP ORANG KRISTEN LAHIR BARU MENYINGKAPI HARI KELAHIRAN YESUS KRISTUS

Pernyataan bahwa, “Natal Tuhan Yesus Kristus tidak ada” adalah pernyataan yang salah karena arti dari Natal adalah lahir. Yesus Kristus pernah dilahirkan, itulah sebabnya yang membuat pernyataan bahwa, “Natal Tuhan Yesus Kristus tidak ada” merupakan pernyataan yang salah. Menurut catatan Alkitab malam kelahiran Yesus Kristus di dunia begitu istimewa, kelahiran Yesus disambut oleh bintang Timur, para Malaikat di Surga, gembala-gembala di padang , dan orang-orang Majus yang datang memberikan persembahan istimewa kepada bayi Yesus Kristus. Malam kelahiran Yesus Kristus begitu istimewa di hati semua manusia. Apakah yang membuat malam kelahiran bayi Yesus Kristus sangat istimewa? Apabila kita membaca Alkitab dengan teliti dan merenungankan kelahiran Yesus Kristus di dunia, maka kita akan menemukan kelahiran Yesus Kristus sangat istimewa, karena membawa kabar kesukaan bagi umat manusia yakni kabar keselamatan. “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2: 11), berita inilah yang membuat malam itu sangat istimewa, sangat istimewa bagi Malaikat-malaikat di Surga, sangat istimewa bagi gembala-gembala di padang, sangat istimewa bagi orang Majus, dan sangat istimewa bagi semua umat manusia. Lalu jika malam kelahiranNya begitu istimewa, mengapakah Ia tidak pernah merayakan hari kelahiran, dan tidak membuat perintah tertulis untuk merayakan hari kelahiranNya? “Sekalipun Yesus Kristus seribu kali lahir di dunia, namun bila tidak lahir di hati Anda. sia-sialah kelahiran Yesus Kristus bagi Anda.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa yang paling penting dari kehadiran Yesus Kristus di dunia ini yakni supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran ( 1Timotius 2: 3-4), Yesus Kristus tidak pernah merayakan kelahiranNya karena yang paling penting dari kelahiranNya adalah Berita Keselamatan.

Sikap yang benar dari orang Kristen Lahir baru dalam menyingkapi hari kelahiran Yesus Kristus adalah mengucap syukur, bukan dengan selebrasi seperti orang-orang kafir dan penyembah berhala. Jika pada tanggal 25 Desember kita bersyukur pada Tuhan karena sudah diselamatkan maka itulah yang dikehendaki Tuhan, kita bersyukur sebagai orang sudah diselamatkan dengan membuang segala asesoris penyembahan berhala, sepert; Pesta Natal, pohon Natal, hadiah Natal dari Sinterklas. Pesta Natal dan hadiah Natal dari Sinterklas adalah ciptaan manusia yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab (Kolose 2: 23), sedangkan pohon Natal berhubungan dengan penyembahaan berhala di masa lalu yang sangat dibenci Tuhan, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk menebang pohon-pohon onak dan rimbun yang menyimbolkan penyembahan berhala (Ulangan 12: 2; IIRaja-raja 17: 10-11; Yehezkiel 6: 13-14).

Jadi bukanlah hari, tanggal, dan bulan perayaan Natal yang penting bagi Tuhan, yang paling penting bagi Tuhan ialah kelahiran kembali bagi setiap orang Kristen (Matius 6: 33; Yohanes 3: 3, 5),  25 Desembar ditetapkan berdasarkan ketetapan manusia atau gereja tertentu, bukan ketetapan Alkitab (Kolose 2: 20-23).

SALAH MENAFSIR ALKITAB

Internet, televisi, radio, surat kabar, buku-buku rohani dapat dengan muda dimiliki orang Kristen zaman sekarang, media-media ini mempermudah orang kristen untuk mengenal kekristenan lebih dekat, sehingga banyak bermunculan pengkotbah-pengkotbah baru, pengkotbah-pengkotbah tersebut dengan mudahnya menafsirkan Alkitab, tanpa memikirkan bahaya dari salah menafsir Alkitab, Petrus memperingatkan hal demikian dalam surat 2 Petrus 1: 20 yang berbunyi; “…nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsir oleh kehendak sendiri.” Salah satu ciri dari menafsir Alkitab menurut kehendak hati sendiri adalah mengutip satu ayat kemudian menjelaskan ayat tersebut berdasarkan pemikirannya sendiri tanpa memperhatikan ayat-ayat Alkitab lain, kotbah-kotbah seperti inilah yang kita saksikan di telesivi dan kita dengarkan di radio sekarang.

Akibat dari salah menafsir Alkitab adalah sesat. Memahami kebenaran Alkitab secara menyeluruh adalah salah satu kunci menafsir Alkitab dengan benar, dan yang dapat memahami kebenaran Alkitab secara menyeluruh adalah manusia rohani, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 2: 13, “Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh,…” menafsir Alkitab harus didasarkan pada pada ayat-ayat yang saling berhubungan dan saling memperjelas makna dari setiap ayat. (Lihat buku saku tulisan saya yang berjudul Engkau harus dilahirkan kembali dari Air dan Roh). Karena asal-asalan menafsir Alkitab banyak orang Kristen giat beribadah pada Allah tanpa pengertian yang benar seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 10: 2 ”…mereka sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.” Inilah yang sangat dikecam Tuhan Yesus, seperti yang dikatakanNya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” Matius 15: 8-9. Inilah yang dilakukan oleh mereka yang merayakan perayaan Natal 25 Desember, karena mereka beribadah pada Tuhan, tetapi ajaran mereka adalah perintah manusia, percuma Ibadah mereka. Mereka yang menjalankan perayaan Natal  25 Desember disebabkan oleh salah tafsir Alkitab, dan kekurangan pahaman cara menafsir Alkitab dengan benar.

Lukas 16: 16 berbunyi, “ Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes,…” ayat sudah menjadi bukti kuat dari kesalah-tafsiran kelompok Advent, tetapi bukan hanya kelompok Advent beberapa dari kelompok kristen pun juga ikut salah tafsir. Lukas 16: 16 memberi penjelasan pada kita bahwa, pada waktu tampilnya Yohanes pembaptisan terjadi peralihan sistem penyembahan, dari penyembahan secara lahiriah kepada penyembahan batiniah. Sistem penyembahan secara lahiriah menekankan penyembahan secara simbolik, karena memang pada masa tersebut juruselamat disimbolkan dengan binatang domba yang tidak bercacat, dan Hukum Taurat bersifat material yang harus dipatuhi secara lahiriah, penyembahan secara lahiriah atau simbolik ini berakhir pada saat Yohanes permbaptis menyatakan bahwa, Yesus Kristus adalah wujud sesungguhnya dari domba simbolik , “ Pada keeesokkan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Yohanes 1: 29, dan penyataan Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria memperjelas akhir dari sistem penyembahan simbolik, “….Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran, Yohanes 4: 24” Sejak masa inilah manusia diwajibkan untuk melepaskan segala penyembahan secara simbolik termasuk hari raya-hari raya yang terikat dengan waktu (tanggal, bulan), tempat, dan cara yang menyimbolkan ketaatan pada Tuhan, dan beralih kepada penyembahan secara hakekat, dalam Roh dan kebenaran tanpa terikat oleh ikatan lahiriah seperti waktu, tempat dan cara. Mereka yang menetapkan hari perayaan Natal pada  25 Desember masih terikat oleh ikatan ibadah lahiriah, karena masih terikat oleh waktu, cara, dan tempat. Pernyataan tertulis Rasul Paulus kepada jemaat Kolose ini sangat berguna bagi Anda yang masih merayakan perayaan Natal pada bulan Juni-juli atau 25 Desember, “Karena itu jangalah kamu membiarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat: semuanya ini hanyalah bayangan apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus” Kolose 2: 16-17. Akhir kata, Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 1 Tesalonika 5: 21