Istilah sakramen tidak terdapat dalam Alkitab, istilah sakramen berasal dari bahasa Latin Sacramentum yang dipakai untuk menterjemahkan istilah Yunani mysterion yang artinya misteri. Istilah sacramentum diambil dari lingkungan militer (sumpah seorang tentara kepada komandannya) dan pengadilan (Jaminan uang orang yang berperkara kepada dewa dengan suatu perjanjian, apabila perkara tidak dimenangkan, maka uangnya menjadi milik kuil). Tertulianus (160-220 M) adalah bapak gereja yang mempopulerkan istilah sacramentum ke dalam dunia kekristenan, yang memiliki pengertian perjanjian Allah kepada gerejaNya, Allah mengikat diri dalam sakramen dan memberi jaminan melalui sakramen atau anuggerah Allah disalurkan pada manusia melalui sakramen.

Pemikiran Tertulianus mengenai sakramen dikembangkan dan diperjelas oleh muridnya Cyprianus (200-258 M), Cyprianus menetapkan bahwa Allah mengikat perjanjian keselamatan dalam gereja, di luar gereja tak ada keselamatan (extra nulla salus ekklesiam). Ikatan Allah yang membawa keselamatan dalam gereja adalah sakramen, dan para uskup adalah penopang dan perlindungan ajaran sesat. Kebenaran Alkitab digantikan dengan kuasa para uskup, sumber kebenaran bukan Alkitab melainkan ketetapan para uskup. Pemikiran dan ketetapan Cyprianus inilah yang membawa gereja tersesat dari ajaran Alkitab, Cyprianus telah mengantikan kebenaran obyektif (Alkitab) menjadi kebenaran subyektif (manusia) dalam kehidupan gereja kristen.
Pemikiran Cyprianus telah membawa gereja jauh dari cita-cita Tuhan Yesus Kristus, dan para Rasul. Puncak dari kesesatan pemikiran Cypranus dalam gereja ialah pada waktu gereja mengeluarkan dan memperjual belikan surat pengampunan dosa (indulgensia/ sakramen pengampunan dosa) untuk kepentingan dana pembangunan gereja Santo Petrus di Roma, orang-orang kristen yang sudah terikat dengan pemikiran bahwa gereja dapat membawa keselamatan melalui upacara sakramen membeli surat pengampunan dosa untuk mendapat pengampunan dosa dalam upacara sakramen pengampunan dosa.

SAKRAMEN GEREJA BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ALKITAB

Sakramen merupakan bagian dari liturgi gereja yang dimaksud untuk penyelamatan dan penyucian, itulah sebabnya ada kata kudus dalam setiap sakramen (perjamuan kudus, baptisan kudus, pernikahan kudus). Pemikiran dan praktek ini sangat bertentangan dengan ajaran Alkitab, Alkitab menekankan bahwa dalam masa ibadah batiniah ini (beribadah dalam roh dan kebenaran) tidak ada tata cara kebaktian yang digunakan sebagai syarat keselamatan karena Yesus Kristus telah mengenapi seluruh tata cara ibadah keselamatan dalam diriNya sendiri (Ibrani 9: 13-14, Ibrani 10: 14).
Kekudusan tidak didapatkan melalui sakramen, melainkan melalui darah dan tubuh Yesus Kristus,”…oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus” Ibrani 10: 19, “…Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” Ibrani 10: 10. Gereja bukanlah perantara antara Allah dan manusia, melainkan Yesus Kristuslah yang menjadi perantaran Allah dan manusia (Yohanes 14: 6), tidak ada praktek keimamatan manusia dalam gereja, karena Yesus Kristus telah menjadi imam besar sebagai kepala rumah Allah (Ibrani 10: 21, 1 Timotius 5: 22), setiap orang percaya mempertanggung jawabkan setiap perbuatan langsung kepada Yesus Kristus dan menjadi imam atas dirinya sendiri (1Petrus 2: 9).
Tata cara sakramen masih menempatkan manusia sebagai imam (Pemimpin gereja), sehingga proses penumpangan tangan oleh imam sebagai perantara Allah dan manusia dalam masa ibadah simbolik masih dipraktekkan dalam upacara sakramen, hal ini bertentangan dengan praktek ibadah batiniah sekarang yang diajarkan Alkitab, yang menempatkan setiap orang percaya sebagai imam, kita adalah imamat yang rajani (1 Petrus 2: 9) karena itulah ”Jangan engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang dan janganlah engkau terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu”1 Timotius 5: 22.

Gereja mula-mula tidak pernah mengadakan sakramen, bahkan tidak pernah mengenal istilah sakramen, hal ini dibuktikan dengan tidak pernah ditemukan istilah sakramen dalam Alkitab. Sakramen sebagai tata cara kebaktian yang memberi syarat keselamatan telah menyebab banyak orang kristen tidak pernah dilahirkan kembali, oleh karena mereka mengharapkan keselamatan melalui sakramen. Baptisan bayi atau baptisan orang yang tidak dilahirkan kembali, perjamuan kudus yang diikuti oleh orang-orang yang belum diselamatkan, merupakan bentuk dari penyimpangan iman Kristen yang disebabkan oleh praktek upacara sakramen buatan manusia (Kolose 2: 18-23)

Sakramen Gereja bukanlah ajaran Alkitab, tidak ada pernyataan di dalam Alkitab yang mengharuskan Gereja dan orang kristen melakukan sakramen. Alkitab hanya menetapkan dua perintah simbolik yang harus dilakukan orang percaya dalam gereja sekarang, yakni Baptisan orang percaya (Matius 28: 19-20) dan Perjamuan Tuhan (1 Korintus 10: 21, 1 Korintus 11: 20, 23-26), dua perintah simbolik ini hanya boleh dilakukan oleh orang percaya (Baptisan, Kisah Rasul 8: 36-38; Perjamuan Tuhan, Yohanes 6: 54-56). Dua perintah upacara simbolik, yang juga disebut Ordinansi (ordinance) gereja, bukanlah upacara yang membawa khasiat pengudusan sebagaimana sakramen, melainkan perintah yang hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menerima pengudusan dari Yesus Kristus yakni, orang yang sudah dilahirkan kembali.

SIKAP ORANG KRISTEN LAHIR BARU MENYINGKAPI SAKRAMEN GEREJA

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan,” (Efesus 5: 17), ayat ini memberikan penekanan kepada orang percaya mengenai pentingnya untuk mengusahakan diri mengetahui pengetahuan iman yang benar, dengan pengetahuan iman yang benar orang percaya dapat melakukan kehendak Tuhan dengan benar, karena dapat membedakan apa yang baik dan berkenan kepada Allah (Roma 12: 2).
Tuhan sangat membenci manusia yang beribadah kepada pada Tuhan, tetapi ajaran yang diajarkan adalah perintah manusia, seperti yang dikatakan dalam Matius 15: 9, “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia,” mendengar dan memperhatikan lebih penting bagi Tuhan daripada korban persembahan (1 Samuel 15: 22, Pengkotbah 4: 17), itulah sebabnya Tuhan sangat menuntut penyembahan kepadaNya dengan pengertian yang benar, karena iman yang benar dimulai dengan pengertian, diikuti dengan perasaan dan diwujudkan dengan tindakan.

Iman tidak terlihat, namun perbuatan-perbuatan memperlihatkan iman kita. Ketaatan lebih penting dari korban persembahan, giat untuk Tuhan tanpa pengertian yang benar dihadapan Tuhan sia-sia (Matius 7: 21-23, Roma 10: 1-3), karena yang Tuhan inginkan ialah melakukan kehendak Tuhan dengan taat. Melakukan dan mendukung sakramen Gereja merupakan suatu tindakan yang melawan Tuhan, karena ajaran sakramen adalah perintah manusia (Matius 15: 9), yang walaupun nampaknya ibadah penuh hikmat namun tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi (Kolose 2: 23), Ibadah yang percuma bagi Allah (Matius 15: 8-9).

Sudah menjadi kewajiban orang kristen lahir baru dan pemimpin gereja yang lahir baru untuk menolak praktek sakramen dalam gereja, dan menetapkan ordinansi sebagai perintah yang harus dilakukan orang percaya dalam gereja. Karena upacara sakramen merupakan ketetapan manusia yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, ikatan janji keselamatan melalui penebusan Yesus Kristus, bukan melalui sakramen gereja. Gereja hanya bertindak sebagai penopang ajaran Allah (1 Timotius 3: 15) dan tempat pemeliharan iman orang percaya (Matius 16: 18-19), bukan pengantara keselamatan manusia pada Allah. Setiap orang yang ingin diselamatkan, diselamatkan oleh imannya kepada Yesus Kristus sebagai juruselamat yang telah menanggung dosa-dosanya (Roma 10: 9-10).