Sejak muncul buku Carlstadt pada tahun 1521AD yang berjudul “ Canon and Scripture.” Buku tersebut berisikan Critik terhadap keotentikan kepenulisan kitab P.L sebagai firman Tuhan. Dari sini bermula munculnya para pengkritik yang mengritik penulisan dan tanggal penulisan kitab P.L. Mereka meragukan naskah Masoritic tradisional Hebrew teks yang merupakan hasil penyalinan para Baly ha-Masoret (Master of traditional) dan nag-danim (ahli tata bahasa) tertanggal sesudah tahun 70 AD.
Sir Frederic Kenyon seorang sarjana dalam bidang naskah-naskah mengatakan dalam bukunya “Our Bible and Ancient Manuscripts” bahwa, “sesungguhnya tidak ada kemungkinan kita akan menemukan naskah-naskah bahasa Ibrani yang berasal dari priode sebelumnya yang kita kenal dengan nama Massoretik.” (Pfeiffer, The dead scroll and the bible, hal., 107).
Pada tahun 1947 AD, tahun yang sama dengan terbitnya buku Sir Frederic Kenyon, terjadi penemuaan-penemuaan lempengan-lempengan dari Babilonia dan lembaran papirus dari Mesir yang memberi keterangan latar belakang mengenai Alkitab Perjanjian Lama yang masih tinggal, kenyataan ini membuat pernyataan Sir Frederic menjadi tidak masuk akal.
Dan penemuan yang paling mengejutkan dikalangan para pengkritik Alkitab adalah penemuan gulungan laut Mati (Dead Sea Scroll) oleh seorang bocah badui tahun 1947 di Wadi Qumran, sebelah barat laut mati.
Penemuan tersebut kemudian dijual; beberapa gulungan dijual ke toko antik Betlehem, dan seorang Archbishop dari gereja Ortodox Syria membeli sisanya. E.L. Sukenik dari Hebrew University di Yerusalem membeli tiga gulungan naskah. Gulungan lain dibawa ke American School of Oriental Research, diteliti oleh J.C. Trever dan W.F. Albright, dari hasil penelitian tersebut pada tahun 1948 AD mereka menyimpulkan bahwa gulungan-gulungan tersebut adalah naskah P.L.
Pada tahun 1951 di Wadi Murabba’at gua disekitar laut mati ditemukan lagi gulungan-gulungan lain diantaranya terdapat Text Mossoretic. Melalui suatu pencarian yang intensif tahun 1952 Khirbet Qumran ditemukan hampir seluruh bagian kitab P.L. kecuali kitab Ester.
Isi dari manuscripts laut mati tersebut (dead sea scroll) memiliki kesamaan dengan Massoretic text, hanya sebagian kecil yang memiliki kesamaan dengan Septauginta (LXX), W.F. Albright dalam sebuah surat pada sahabatnya John Trever menyatakan bahwa menurut penelitiannya gulungan tersebut tertanggal tahun 100 S.M. atau artinya gulungan ini ada sebelum Kristus.
Penemuan Dead Sea Scroll ini membuktikan bahwa pernyataan para pengkritik Alkitab mengenai ketidak-akuratan Traditional Mosseretic Hebrew Text sebagai firman Allah yang dipelihara merupakan pernyataan yang salah. Namun karena tidak mengasihi Tuhan para pengkritik tersebut menjadikan sebagian naskah laut mati untuk mendiskreditkan Traditional Massoretic Hebrew Text. Tetapi kaum Fundamental yang mengasihi Tuhan tetap yakin bahwa Text Massoretic adalah teks yang dipelihara Tuhan.