Sejak Jacob Hermann Arminius (1560-1609 AD) seorang Reformed Calvinis di Belanda memberikan reaksi yang keras terhadap pemikiran John Calvin mengenai soverign grace of God, yang termuat dalam bukunya Institutes of the Christian Religion, Calvin mengatakan;
God does not indiscriminately adopt all into the hope of salvation but gives to some what he denies to other God he also predestinate the fall into sin. (John Calvin, Institute of Christian Religion, ed. John T. Mcneill. (Phil: The Westmister Press, 1973). Hal. 921)
Hal ini membuat Arminius membuat reaksi yang keras dengan mengeluarkan “Declarations to the Lords of the state of Holland” pada tanggal 30 oktober 1608. Isi dari deklarasi ini berupa peringatan terhadap gereja-gereja Reformed di Belanda tentang kesesatan konsep Supra-Lapsarian. Sejak saat itu banyak tulisan yang bermunculan menyerang pemikiran John Calvin mengenai predestinasi, hingga sekarang. Bahkan beberapa tulisan bersifat membabi-buta dan bersifat spekulatif.
Tulisan-tulisan yang sifatnya membabi-buta dan spekulatif berusaha membuktikan ketidak-alkitabiahan pemikiran Calvin dan Calvinis mengenai predestinasi, tetapi keseluruhan dari banyak tulisan yang membabi-buta dan spekulatif ini tidak membangun suatu konsep yang Alkitabiah sebaliknya tulisan-tulisan tersebut telihat sangat dangkal memahami pemikiran Calvin.
Konsep supralapsarian (Allah sudah mempredestinasikan nasib manusia sebelum ada kejatuhan manusia dalam dosa) merupakan hasil perumusan Theodore Beza dari konsep pemikiran John Calvin mengenai pemilihan, pemikiran ini dipopulerkan oleh Prof. Gomarus dari Layden tahun 1594.
Arminius menolak pemikiran supralapsarian, sebab menurutnya ada tiga hukum yang Allah berikan secara universal yakni, salvation of all (menghendaki semua orang diselamatkan), Christ’s death for all (Kristus mati untuk semua manusia), dan offer means of salvation to all (tawaran Injil keselamatan untuk semua orang). Ketiga hal ini merupakan penetapan Allah dari kekal.
Ketiga hukum ini dijabarkan menjadi lima pasal pemikiran Arminius, yang mengundang kontroversi di seluruh Eropa. Sesudah kematian Arminius para penganut paham supralapsarian bersidang selama enam bulan (november 1618-mei 1619) yang diikuti delapan belas delegasi dan delapan puluh anggota, persidangan (sinod of Dort) ini menghasilkan lima pokok Calvinis yang dikenal dengan TULIP.
Jika kita mengamati latar belakang munculnya gerakan Calvinis, maka kita akan melihat titik tolak permasalahan dengan jelas. John Calvin dan Calvinis melihat kedaulatan Allah dan iman dari sisi pandang esensi dan mengabaikan sisi pandang eksitensi dari iman tersebut, hal ini terlihat dari konsep pemikiran supralapsarian yang tidak diterima sepenuhnya oleh kalangan calvinis. Beberapa dari penganut Calvinis menolak pemikiran supralapsarian dan merumuskan konsep lebih moderat yang dikenal dengan pemikiran infralapsarian.

Pemahaman John Calvin dan Calvinis mengenai esensi iman itu Alkitabiah
Alkitab menjelaskan bahwa, semua manusia telah berdosa dan dosa telah menyebabkan manusia tidak memiliki daya apapun untuk menyelamatkan dirinya dari penghukuman Allah (Yesaya 64: 6; Roma 3: 23). Dengan rencana dan perbuatan apapun yang dilakukan manusia, manusia tidak dapat merancang jalan keselamatan. Bagi Allah segala rancangan dan perbuatan manusia berdosa untuk menyelamatkan diri merupakan suatu kekejian (Yesaya 64:6).
Allah menuntut kesucian sebagai jalan penyelamatan. Namun kesucian manusia adalah kesucian yang berdosa sehingga bagi Allah merupakan suatu kekejian, apakah yang dapat diperbuat manusia jika dasar-dasar kesucian telah dihancurkan? (Mazmur 11:3) jawabannya tidak ada selain dari kematian yang kekal (Roma 6:23).
Hukum Taurat merupakan standar kesucian Allah. Adakah seorang manusia dapat menjalankan hukum taurat secara sempurna? Jelas tidak (Galatia 3:11). Dasar hukum taurat adalah perbuatan (Galatia 3:12). Dan dari sinilah kita tahu bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat selamat karena perbuatan.
Inilah sekilas pemahamana yang melandaskan pemikiran John Calvin dan Calvinis untuk meremuskan konsep predestinasi dan doktrin pemilihan mereka. Bukan manusia yang berinisiatif menyelamatkan diri sendiri dan mencari Allah, tetapi Allahlah yang berinisiatif mencari dan menyelamatkan manusia (soverighty of God/ kedaulatan Allah).
Adam dan Hawa yang telah berdosa takut dan bersembunyi ketika mendengar suara Tuhan (Kejadian 3:8), tetapi Tuhan mencari mereka untuk menyelamatkan mereka dari keberdosaan (Kejadian 3:9; 15; !Timotius 2:15). Hal ini terbukti dengan Tuhan menumpahkan darah binatang (domba) dan mengambil kulitnya untuk dibuat menjadi pakaian Adam dan Hawa (Kejadian 3:21).
Dosa menyebabkan manusia takut dan menjauhi Tuhan, manusia yang berdosa memiliki kecendrungan hati melawan Tuhan (Kejadian 6:5), namun Tuhan yang maha kasih senantiasa menunjukkan kesabarannya supaya manusia dapat diselamatkan melalui AnugerahNya (2 Petrus 3:9). Tanpa anuggerah Tuhan manusia tidak dapat selamat (Yohanes 3:16), anuggerah itu dijanji melalui Injil (kabar baik kepada manusia tentang pemberasan dosa).
Kepada Adam dan orang-orang perjanjian lama Tuhan memerintah mereka supaya percaya kepada anuggerah Injil Tuhan mengenai pemberasan dosa. Tuhan memerintah kepada mereka untuk mengorban domba sebagai simbol dari anuggerah penyelamat yang akan datang membereskan dosa manusia, janji ini digenapi oleh Yesus Kristus yang mati tersalib untuk membereskan dosa-dosa manusia. Dan setiap kita yang ingin diselamatkan tidak boleh menolak anuggerah salib Kristus, karena hanya melalui penebusan Yesus Kristuslah manusia dapat diselamatkan dan disucikan dihadapan Allah.
Dan orang-orang yang telah diselamatkan hanya melalui anuggerah Allah hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Efesus 1:13-14), dan bagi mereka yang telah diselamatkan Allah memberikan kepastian keselamatan, serta janji pemeliharan melalui Roh Kudus untuk memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemulianNya. Karena Allah yang membentuk manusia percaya bukan manusia yang membentuk Allah (Yesaya 10:15; 45:9; Yeremia 18:16; Matius 11:25-26; 20:15; Roma 9:17; 19-21)
Dari penguraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa, secara esensi pemahaman Calvin dan Calvinis mengenai esensi iman cukup Alkitabiah. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang Kristen yang tingkat pemahaman Alkitab’bisa dikatakan pada level menengah’ tidak dapat melihat kesalahan Calvinis. Sebab mereka tidak dapat mengharmonisasikan bagian-bagian Alkitab secara keseluruhan dan cendrung konservatif dengan pemikiran tokoh-tokoh Calvinis.

Ketidak-Alkitabiahan Pemikiran Calvinis tentang Eksistensi Iman
Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup, dosa pun tidak menyebabkann manusia kehilangan keinginan untuk memilih. Manusia yang telah berdosa masih tetap memiliki kehendak bebas, hanya kecendrungan pilihan manusia selalu pada hal-hal yang berdosa (Kejadian 6:5).
Pemikiran doktrin pemilihan dan predestinasi Calvinis cendrung dibangun di atas suatu konsep penafsiran yang salah dari ayat-ayat Alkitab. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Allah mengikat kehendak bebas manusia untuk memilih (sehingga bukan manusia yang memilih apa yang ia kehendaki tetapi Allah memilih dan menentukkan apa yang Ia kehendaki). Salah satu contoh yang dapat kita pelajari dalam Alkitab yakni, ketika Allah memanggil Yeremia untuk menjadi Nabi. Allah menyatakan kepada Yeremia segala otoritasNya terhadap hidup Yeremia. Namun demikianpun Allah memberikan pilihan kepada Yeremia untuk tunduk kepada otoritasNya atau menolak otoritasNya (jika Yeremia tunduk pada otoritas Allah, maka Allah akan menyertainya, tetapi jika tidak maka Yeremia akanmendapat resiko dari penolakannya. Yeremia 1:17).
Calvinis cendrung melihat doktrin pemilihan dan predestinasi dari sisi kedaulatan Allah dalam hidup manusia secara pribadi, sehingga mereka mengajarkan bahwa Allahlah yang memilih dan menentukan seseorang untuk diselamatkan. Tetapi doktrin pemilihan dan predestinasi yang terdapat dalam Alkitab mengajarkan bahwa, predestinasi dan pemilihan ada pada inisiatif penyelamatannya Allah kepada manusia.
Konsep supralapsarian Calvinis sangat apriori dan sifatnya spekulatif terhadap sifat hakekat kemaha-tahuan Allah. Konsep ini dibangun di atas dasar pemahaman bahwa, sebelum penciptaan dan kejatuhan manusia Allah sudah menentukan orang yang dipilih untuk selamat dan binasa. Jelas pemikiran konsep ini melampui apa yang Allah nyatakan kepada manusia (karena manusia hanya mengenal Allah sejauh mana Allah memperkenalkan diriNya kepada manusia). Saya sangat setuju dengan pernyataan Arminius dalam “Declarations to the Lords of the state of Holland” yang mengatakan;
God’s appointmen of Christ to be a savior, and in this (and not in God’s instrutable will) our salvation rest. Believer’s assurance depends upon the decree the who believe shall be saved. But the doctrin of this predestination (of supralapsarianism) embraces within itself neither the first nor the second number of the sillogism…but the supralapsarianism position can not accommodate such matters. ( James Nichols, Declaration of Sentiment of Armenianism. Work I. London: Logman, 1925, hal. 555)
Dalam hemat saya Calvinis tidak mengakui keselamatan oleh iman, melainkan mereka memandang keselamatan merupakan ketetapan Allah dari kekal. Alkitab memberikan penjelasan bahwa manusia selamat hanya oleh iman (Roma 1:16-17; Efesus 2:8-9).
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa Allah sudah menetapkan (predestinasikan) janji mengenai juruselamat yang akan membereskan dosa manusia (Kejadian 3:15). Janji penetapan juruselamat yang akan datang, pada masa perjanjian lama disimbolkan dengan domba. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengakui dosa-dosanya dan mengorbankan domba sembagai simbol penghapus dosa, barang siapa yang melakukan ibadah domba korban dan mengimani juruselamat yang akan datang akan diselamatkan.
Penetapan akan datang juruselamat itu telah dinubuatkan dalam nubuatan kitab-kitab perjanjian lama, dan tidak satu nubuatan pun yang gagal mengenai kedatangan Juruselamat. Sehingga dengan Allah menetapkan janji kedatangan juruselamat, maka melalui ketetapan Allah itulah manusia beroleh selamat, sesuai yang dituliskan Roma 8: 29-30. Setiap orang yang telah dipilih dan ditentukan menjadi serupa dengan gambar AnakNya (siapa yang percaya pada penetapan janji penyelamatan mereka yang dipilih Allah).
Alkitab mengajarkan bahwa, keselamatan manusia sudah ditetapkan Allah (mereka yang selamat adalah mereka yang percaya pada Yesus Kristus yang sudah mati tersalib melunasi semua dosa manusia, dan mereka yang tidak percaya adalah mereka yang binasa Yohanes 3:36) dan penetapan keselamatan manusia hanya melalui satu anuggerah yakni anuggerah penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib Kisah Rasul 2:36 tidak ada jalan lain untuk manusia dapat diselamatkan, hanya melalui percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati untuk dosa-dosa manusia dan bangkit dari kematian (1Korintus 15:2-3).
Jadi orang-orang yang diselamatkan menurut Alkitab ialah mereka yang percaya dengan iman bahwa Yesus Kristus sudah ditetapkan mati dan bangkit untuk dosa-dosa manusia, tidak ada jalan lain selain daripada anuggerah salib ini untuk mendapat kasih karunia keselamatan. Tidak dengan perbuatan, amal, ibadah melainkan hanya dengan kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Jelas hal ini bertolak-belakang dengan konsep supralapsarian Calvinis, yang percaya manusia telah ditetapkan tanpa syarat apapun untuk diselamatkan dan tidak adapenolakan untuk binasa.

Dapatkah Konsep Calvinis Menyelamatkan?
Alkitab mengajarkan bahwa, hanya Injil yang merupakan kekauatan Allahlah yang dapat menyelamatkan semua orang (Roma 1:16). Jadi apakah Injil itu? Injil adalah kabar baik yang tentang pemberasan dosa manusia oleh juruselamat kita Yesus Kristus yang mati tersalib menanggung dosa manusia (Ia sendiri tidak berdosa 2 Petrus 2:22; Ibrani 4:15). Orang-orang percaya dengan iman dan mengakui dosa-dosa mereka terhadap karya keselamatan ini, akan memperoleh hidup yang kekal (Roma 1:17).
Paket Injil yang menyelamatkan adalah paket Injil yang tidak ditambah dan yang tidak dikurangi, secara garis besar paket Injil yang sempurna tercantum dalam Amanat Agung Matius 28:19-20 . Dimulai dengan mendengar dan berseru kepada nama Yesus juruselamat yang membereskan dosa-dosanya, kemudian memberi diri menjadi murid dengan dibaptis, serta melakukan segala ajaran Tuhan.
Pada prinsipnya hampir semua kalangan Kristen berseru dan mengakui Yesus Kristus sebagai juruselamat, tetapi pada kenyataannya banyak sekali orang kristen yang tidak melakukan ajaran Tuhan Yesus. Bagaimanakah orang Kristen yang tidakl melakukan ajaran Tuhan? Jawaban adalah binasa! Hal ini sama dengan orang-orang yang percaya kepada paket Injil yang ditambahkan dan dikurangi, mereka pun akan binasa.
Salah satu pembelajaran yang Alkitab ajarkan mengenai konsep Injil yang ditambahkan terjadi pada jemaat Galatia. Pada waktu Rasul Paulus memberitakan Injil di kota Galatia, ada orang-orang yang percaya dan menerima Injil sehingga terbentuklah jemaat di Galatia. Sesudah itu Paulus meninggal jemaat di Galatia, ia mendengar bahwa ada sekolompok orang yang mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan tidak hanya percaya Yesus, tetapi harus ditambah melakukan hukum taurat salah satu bukti ialah dengan disunat. Dan dengan tegas Paulus mengatakan bahwa, Siapa yang menyunatkan dirinya dan hidup di bawah hukum taurat lepas dari kasih karuni (Galatia 5:3-4) artinya binasa karena tidak ada seorangpun yang selamat karena melakukan hukum taurat.
Oleh karena itu Injil yang menyelamatkan adalah paket Injil yang utuh (tidak dapat ditambahkan dan tidak dapat dikurangi). Dari pemahaman kosep supralapsarian Calvinis yang mengabaikan aspek iman dan kehendak bebas manusia untuk memilih, jelas bahwa konsep supralapsarian Calvinis tidak menyelamatkan, karena secara jelas konsep ini mengurangi karya penebusan Yesus Kristus dalam diri manusia.