Minggu lalu kita membahas bertumbuh dalam Kristus dan minggu sebelumnya kita membahas membangun keluarga, untuk membangun sebuah keluarga Allah yakni, jemaat lokal yang dapat berkembang dan maju maka anggota-anggota jemaatnya harus memiliki persentasi yang tinggi dalam mengasihi Tuhan. Tanpa hati sangat tinggi mencintai Tuhan dari anggota-anggota jemaat lokal, maka jemaat sulit maju dan berkembang. Oleh sebab itulah kemajuan sebuah jemaat lokal bergantung pada anggota-anggota jemaat yang memiliki rasa kasih yang sangat tinggi dalam mengasihi Tuhan, serta jemaat lokal harus dilayani oleh pelayan jemaat yang memiliki pengetahuan iman yang benar sehingga rasa cinta jemaat pada Tuhan tidak diarahkan pada hal-hal yang salah dan menyesatkan (Roma 10: 1-3).
Seseorang yang memiliki rasa kasih yang sangat tinggi pada Tuhan dapat memberi pengaruh yang sangat besar dalam pelayanan jemaat lokal, kehadirannya dapat memberikan motivasi tersendiri untuk kemajuan jemaat, orang yang memiliki hati yang sangat mengasihi Tuhan memiliki arti tersendiri dalam kehidupan jemaat lokal, ia menjadi berarti karena mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan memiliki hati mengasihi jemaat lokal sebagai tubuh Tuhan seutuhnya.
Daud sangat dikasihi bangsa Israel lebih dari Saul (1 Samuel 18: 7) karena hati Daud sepenuhnya diberikan bagi bangsa Israel (1 Samuel 17: 26-27), dan jauh sebelum bangsa Israel mengagumi dan mengasihi Daud, Tuhan sudah lebih dulu melihat hati Daud, Tuhan menetapkan Daud sebagai raja mengantikan Saul sebelum ia dikenal semua orang sebagai pahlawan dan pemberani (1 Samuel 16: 6-7, 11-13). Daud menjadi seseorang yang sangat istimewah dikalangan orang Israel dan yang terpenting ialah Daud menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan. Sekarang Tuhan tidak lagi memakai bangsa Israel sebagai penopang kebenaran, untuk sementara waktu Tuhan mempercayakan kepada jemaat lokal sebagai penopang kebenaran (1 Timotius 3: 15) sampai jumlah yang genap dari bangsa-bangsa lain sudah masuk (Roma 11: 25) atau Injil sudah diberitakan keseluruh dunia (Matius 24: 14), namun Tuhan tetap memakai orang-orang yang berhati seperti Daud untuk memelihara dan menjaga jemaat lokal atau tubuh Tuhan, Tuhan ingin setiap anggota jemaat lokal menjadi orang yang berkenan dihatiNya, menjadi orang yang berharga di mataNya; Apakah saudara memiliki kerinduan untuk menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan? Jika ya, maka perhatikanlah kotbah pagi ini yang membedah sisi hidup Daud yang mengesankan.

I. Hidup Dalam Tuhan

Dosa yang dilakukan Daud sangat besar dan kejam dalam ukuran manusia, Daud berselingkuh dengan Batsyeba istri Uria salah seorang prajurit terbaiknya. Saat diberitakan kepada Daud bahwa Batsyeba hamil karena hasil perselingkuhan dengannya, Daud mencari cara menjebak Uria dengan menyuruhnya pulang dari medan pertempuran sehingga Uria bisa tidur dengan istrinya, namun Uria sebagai seorang prajurit yang setia, tidak mau bersenang-senang tidur dengan istrinya sedang prajurit yang lain berjuang mati-matian di medan perang, usaha yang dilakukan Daud untuk menjebak Uria supaya bisa tidur dengan istrinya gagal total, karena takut aibnya terbongkar akhirnya Daud merencanakan pembunuhan Uria dengan cara yang sangat kejam sebagai seorang raja, Daud menyuruh Yoab panglima perangnya menempatkan Uria dibarisan yang paling depan dalam pertempuran yang hebat, kemudian meninggalkan Uria seorang diri dibarisan musuh sehingga Uria mati, rencana ini berhasil. Uria mati sebagai prajurit yang setia oleh rencana kejam rajanya sendiri (2 Samuel 11: 1-15).
Sebuah akumalsi dosa, dimulai dari hati yang penuh hawa nafsu karena kemolekan tubuh Batsyeba sampai akhirnya mendalangi pembunuhan Uria, itulah Dosa Daud. Seringkali manusia tidak menyadari bahwa keinginan jahat dalam hatinya adalah awal dari sebuah dosa yang membawa pada kematian, sifat kompromi seseorang terhadap suatu kesalahan kecil tanpa disadari bahwa sesungguhnya dari kesalahan-kesalahan kecil inilah, sebuah kejahatan besar diawali.
Istilah cuci mata adalah istilah yang populer dikalangan orang-orang perkotaan zaman sekarang, “itu sebuah seni kok, kalau mengagumi ciptaan Tuhan,” mengagumi ciptaan Tuhan bukan suatu kesalahan, namun kalau yang dikagumi adalah kemolekan tubuh istri orang atau suami orang maka ini adalah awal dari sebuah dosa perzinaan, sedikit saja seseorang membiarkan hatinya diisi dengan kenikmatan duniawi maka iblis akan mengunakan ruang yang kecil tersebut untuk menjerumuskannya ke dalam dosa yang menjerat hidup kerohaniannya sehingga tidak dapat bertumbuh. Oleh sebab itu sebagai orang kristen lahir baru, berusahalah supaya tidak berkompromi dengan dosa dengan alasan seperti apapun, jagalah hati dengan segala kewaspadaan karena dari hatilah terpancar kehidupan (Amsal 4: 23).
Daud melakukan dosa yang lebih berat dibandingkan Saul dalam padangan manusia. Tuhan memerintahkan kepada Saul untuk maju berperang melawan orang Amalek dan membunuh seluruh orang Amalek beserta binatang-binatangnya, karena orang-orang Amalek menghalang-halangi orang Israel ketika keluar dari Mesir (1 Samuel 15: 1-3). Saul maju berperang bersama orang-orang Israel dan mendatangkan kekalahan yang luar biasa terhadap bangsa Amalek, namun atas pertimbangan untuk mempersembahkan korban kepada Allah, maka Saul dan orang-orang Israel tidak membunuh lembuh-lembuh terbaik, anak-anak domba dan segala yang berharga. Apa yang dilakukan Saul ini sangat menyakitkan hati Tuhan, Saul tidak mendengar perkataan Tuhan walaupun inisiatif Saul baik namun yang Tuhan inginkan ialah taat bukan persembahan (1 Samuel 15: 22). Banyak orang kristen seperti Saul, berinisiatif memajukan gereja dan pelayanan dengan cara-cara duniawi dan dengan berbagai alasan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai alkitabiah dari apa yang dilakukannya.
Perhatikan dan renungkanlah siapakah yang paling jahat kesalahannya diantara Daud dan Saul? Sebagai seorang manusia maka penilaian saya Daudlah yang paling jahat. Namun Alkitab mencatatkan bahwa kesalahan Saul telah menyebabkan Tuhan menolaknya dan keturunannya sebagai penerus raja atas bangsa Israel (1 Samuel 15: 26-28), sebaliknya Tuhan menegakkan taktah kerajaan kepada Daud dan keturunannya sampai selama-lamanya (1Tawarikh 17: 10-14). Mengapakah kesalahan Saul sangat fatal dihadapan Tuhan? Dan mengapakah Daud yang walaupun dalam ukuran dosanya sangat besar namun Tuhan masih mengasihinya?
Daud dan Saul adalah orang Israel yang mengenal Tuhan sejak dari kecil. Namun Daud bukan hanya mengenal Tuhan karena dibesarkan dalam kalangan Israel, Daud hidup di dalam Tuhan, ia mengenal Tuhan dan memegang kebenaran Tuhan dalam hatinya, hal itu terlihat dari sikap hatinya ketika ia mendengarkan Goliat menghina bangsa Israel, ia tampil sebagai pembela barisan Israel karena ia tahu bahwa siapapun yang menghina bangsa Israel berarti juga menghina Tuhan karena pada masa itu Tuhan memilih bangsa Israel sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran bagi umat manusia (1 Samuel 17: 26-27, 45-47), Daud adalah gambaran orang yang sungguh-sungguh lahir baru.
Seseorang yang sudah lahir baru bisa jatuh dalam dosa, namun tidak hidup dalam dosa. Orang yang lahir baru memiliki pandangan yang sama dengan Allah terhadap dosa, namun karena tubuh daging yang terikat oleh dosa maka seringkali jatuh dalam dosa. Jatuh dalam dosa tidak berarti tidak diselamatkan lagi, janji keselamatan yang Tuhan berikan pada seseorang yang sudah dilahir-barukan adalah utuh yakni Yesus Kristus menanggung dosa yang telah diperbuat, sedang diperbuat maupun yang akan diperbuat (Roma 5: 8-10), jadi orang lahir baru yang jatuh dalam dosa tidak menyebabkan gagal keselamatannya terkecuali ia hidup dalam dosa atau tidak hidup dalam iman.

Daud jatuh dalam dosa namun Tuhan tetap mengasihinya karena Daud adalah orang yang hidup dalam Tuhan, ia dengan rendah hati mengakui kesalahannya ketika dosanya dinyatakan, Daud sama seperti orang lahir baru yang jatuh dalam dosa saat ini. Namun waspadalah dengan dosa karena setiap perbuatan dosa yang telah dilakukan pasti akan dipertanggungjawabkan dihadapan pengadilan Kristus atau bema Kristus (2 Korintus 5: 10), sebab itu jauhilah dosa supaya jangan dipermalukan dihadapan taktah Kristus karena perbuatan-perbautan dosa sendiri.
Sebaliknya Saul mengenal Tuhan karena ia dibesarkan dalam kalangan Israel, namun tidak hidup dalam Tuhan dan memegang kebenaran Tuhan dalam hidupnya, hal ini diperlihatkan ketika Samuel menyatakan kesalahannya, Saul berusaha membenarkan diri dengan menyatakan bahwa kambing domba dan lembuh-lembuh terbaik diselamatkan dengan maksud untuk mempersembahkan pada Tuhan (1 Samuel 15: 15), namun sebenarnya Saul melakukan hal tersebut karena takut pada rakyat (1 Samuel 15: 24), bukan karena ingin menyenangkan hati Tuhan.

Saat ini banyak orang Kristen seperti Saul, mereka memasukkan unsur duniawi ke dalam gereja walaupun bertentangan dengan ajaran alkitab yang dapat membawa iman seseorang kepada kematian yang kekal atau ke Neraka seperti yang terjadi di Galatia (Galatia 5: 3-4), ketika kesalahan mereka dinyatakan mereka berusaha mencari pembenaran dan beralasan apa yang mereka lakukan ialah untuk Tuhan, orang kristen yang seperti ini ialah orang kristen yang tidak lahir baru, mereka melayani Tuhan dengan motivasi yang tidak tulus, isi hatinya penuh dengan kepentingan pribadi, hatinya penuh dengan akal bulus dan tipu muslihat, sama seperti Saul yang membawa korban persembahan bukan karena mengasihi Tuhan namun karena takut kepada rakyatnya sendiri. Takut tidak dapat pasangan hidup, takut dikucilkan karena sedikit, takut menjadi anggota jemaat karena jemaat kecil walaupun alkitabiah, takut tidak cukup kebutuhan hidup kalau memberi persepuluhan, takut hidup terlalu jujur nanti tidak dapat kenaikan jabatan, takut berdagang dengan jujur nanti untungnya sedikit, orang kristen yang demikian nasibnya akan sama seperti Saul, pasti ditolak Tuhan.
Saul tidak mengasihi Tuhan, dia menyembah Tuhan karena Tuhan memberikan jabatan raja padanya (1 Samuel 15: 25) bahkan dia tidak mengakui Tuhan sebagai Tuhannya melainkan Tuhannya Samuel (1 Samuel 15: 30) itulah sebabnya Tuhan tidak berkenan pada Saul, dan Saul adalah gambaran orang Kristen yang menjadi Kristen karena keturunan dan orang Kristen tanpa pengertian yang benar (Matius 15: 8-9, Roma 10: 1-3). Sedangkan Daud sangat mengasihi Tuhan (1 Samuel 17: 26-28), seumur hidupnya ia memikirkan perkara-perkara rohani, hal ini terlihat dari mazmur-mazmur yang ditulisnya senantiasa mengagungkan dan memuliakan nama Tuhan, itulah sebabnya Tuhan sangat mengasihi Daud (1 Tawarikh 17: 3-14). Daud adalah gambaran orang yang sudah lahir baru dan hidup dalam Tuhan, orang yang demikian pasti sangat dikasihi Tuhan dan menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan.

II. Mengandalkan Tuhan

Berbeda dengan Saul yang takut pada manusia (1 Samuel 15: 24), Daud mengandalkan Tuhan dalam hidupnya (1 Samuel 17: 45-47), bahkan seumur hidupnya (Mazmur 23: 6). Seseorang yang sudah dilahir-barukan menjalani dan menghadapi setiap persoalan hidup dengan mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan Tuhan merencanakan segala sesuatu dengan melibatkan Tuhan di dalam setiap rencananya, seseorang yang sudah akil-balik dan lahir baru walaupun usianya masih remaja, ia harus belajar melibatkan Tuhan dalam hidup dan rencana hidupnya. Daud pada waktu diurapi Tuhan, ia masih sangat muda, Tuhan mengurapi Daud sebagai raja bukan karena jasa atau usaha orang tuannya, namun karena Tuhan tahu bahwa Daud seorang anak yang sangat mengasihiNya dan mengandalkanNya.
Bila kondisi kerohanian seseorang jauh dari Tuhan, pasti ada keluhan ketika menghadapi persoalan hidup, saat senang ingat kesenangan duniawi namun saat susah mencari Tuhan. Kebanyakan orang mencari Tuhan hanya sekedar menjadi sasaran minta tolong, kerohanian orang seperti ini sangat disayangkan, mencari Tuhan kok setengah-setengah. Jangan hanya mencari Tuhan kalau kesusahan saja, tetapi carilah Tuhan yang dapat menyelamatkan jiwa dari Neraka, jika Tuhan sanggup menyelamatkan jiwa kita dari Neraka, apalagi hanya persoalan-persoalan dunia, pasti Tuhan sanggup memelihara hidup kita.
Saul seumur hidupnya hanya memikirkan kepentingannya sendiri, seumur hidupnya ia berusaha mengejar-ngejar Daud untuk membunuhnya, ia takut bila Daud tetap hidup maka Daud akan menjadi raja atas Israel, Saul sama sekali tidak mempertimbangkan ketetapan Tuhan. Banyak orang kristen seperti ini, seumur hidupnya ia hanya memikirkan kepentingannya sendiri, ia takut orang lain lebih sukses darinya, takut orang lain lebih kaya darinya, orang kristen seperti ini tidak akan menerima apapun, baik harta rohani maupun sukacita dalam hidupnya, bahkan apa yang ditakutkannya betul-betul menjadi kenyataan
Daud seumur hidupnya memikirkan kepentingan Tuhan bahkan saat dikejar-kejar Saul, Daud menuliskan banyak mazmur yang dapat kita baca sekarang, ia bukan tipe orang yang kalau senang baru bersyukur pada Tuhan, sebaliknya ia dalam kesulitan-kesulitan banyak mengucap syukur pada Tuhan. Oleh sebab itu, pada waktu ia sudah tinggal di istana yang megah, ia sangat bersusah hati karena tabut Tuhan berada di tempat yang tidak layak, ia merencanakan membangun rumah untuk Tuhan walaupun awalnya Tuhan tidak membutuhkan rumah buatan manusia, namun karena Tuhan melihat hati Daud yang begitu mulia maka Tuhan mengabulkan permintaannya. Luar biasa!
Saudara, untuk memajukan sebuah jemaat lokal dan pekerjaan memenangkan jiwa dibutuhkan pelayan Tuhan dan anggota-anggota jemaat berhati seperti Daud. Kalau pelayan Tuhan berhati seperti Daud, namun anggota jemaatnya berhati seperti Saul maka lambat-laun jemaat lokal akan punah; tidak pernah memikirkan pekerjaan Tuhan tapi maunya menuntut terus, tidak pernah memikirkan pekerjaan Tuhan namun maunya diperhatikan dan sukanya mengkritik. Tuhan tidak menjatuhkan uangnya dari langit untuk mendukung jemaat lokal, ia menyalurkan berkat-berkatnya melalui anggota-anggota jemaat yang setia. Kalau berharap menjadi orang yang mau dipakai Tuhan mendukung jemaat lokal, maka jujurlah dan setia memberi persepuluhan, kalau dalam hal persepuluhan saja seseorang tidak setia, mungkinkah Tuhan menyalurkan berkat melaluinya?
Tuhan lebih memilih Daud daripada Saul, karena Daud dapat dipercaya sebagai penyalur berkat dari Tuhan, apa yang didapatkannya dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Seseorang tidak harus banyak uang baru bisa seperti Daud, segala ketrampilan, waktu, tenaga bisa kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan. Bila Tuhan memberikan kemampuan untuk bermain musik maka gunakanlah kemampuan untuk bermain musik, bila Tuhan memberikann kemampuan untuk menulis gunakanlah tulisan untuk memuliakan Tuhan, bila Tuhan memberikan kemampuan dibidang IT gunakanlah itu untuk memuliakan Tuhan dan apapun kelebihan kita dapat kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan.
Orang yang dipakai Tuhan adalah orang yang mengandalkan Tuhan, dia tidak akan takut kekurangan bila untuk kemuliaan Tuhan, tidak takut rugi kalau untuk kemuliaan Tuhan, tidak takut kepada orang-orang yang tidak hidup dalam kebenaran dengan penuh hati yang mengasihi menyatakan kesalahan dan menjauhi mereka yang hidupnya memusuhi dan mencela nama Tuhan. Mari kita baca Yeremia 17: 7 bersama-sama;

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapnya pada Tuhan!

Seseorang yang berkenan dihati Tuhan adalah seorang yang telah diselamatkan, yang memberikan segenap hatinya untuk kemuliaan Tuhan. Tidak takut bahaya dan kekurangan bila yang dilakukannya ialah untuk kemuliaan Tuhan, karena ia percaya pada Tuhan dan mengandalkan Tuhan seumur hidupnya. Untuk menutup kotbah ini, mari kita tundukkan kepala dan mengoreksi hati kita masing-masing, sudahkah kita menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan