Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup, dosa pun tidak menyebabkann manusia kehilangan keinginan untuk memilih. Manusia yang telah berdosa masih tetap memiliki kehendak bebas, hanya kecendrungan pilihan manusia selalu pada hal-hal yang berdosa (Kejadian 6:5).

Pemikiran doktrin pemilihan dan predestinasi Calvinis cendrung dibangun di atas suatu konsep penafsiran yang salah dari ayat-ayat Alkitab. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Allah mengikat kehendak bebas manusia untuk memilih (sehingga bukan manusia yang memilih apa yang ia kehendaki tetapi Allah memilih dan menentukkan apa yang Ia kehendaki). Salah satu contoh yang dapat kita pelajari dalam Alkitab yakni, ketika Allah memanggil Yeremia untuk menjadi Nabi. Allah menyatakan kepada Yeremia segala otoritasNya terhadap hidup Yeremia. Namun demikianpun Allah memberikan pilihan kepada Yeremia untuk tunduk kepada otoritasNya atau menolak otoritasNya (jika Yeremia tunduk pada otoritas Allah, maka Allah akan menyertainya, tetapi jika tidak maka Yeremia akanmendapat resiko dari penolakannya. Yeremia 1:17).

Calvinis cendrung melihat doktrin pemilihan dan predestinasi dari sisi kedaulatan Allah dalam hidup manusia secara pribadi, sehingga mereka mengajarkan bahwa Allahlah yang memilih dan menentukan seseorang untuk diselamatkan. Tetapi doktrin pemilihan dan predestinasi yang terdapat dalam Alkitab mengajarkan bahwa, predestinasi dan pemilihan ada pada inisiatif penyelamatannya Allah kepada manusia.

Konsep supralapsarian Calvinis sangat apriori dan sifatnya spekulatif terhadap sifat hakekat kemaha-tahuan Allah. Konsep ini dibangun di atas dasar pemahaman bahwa, sebelum penciptaan dan kejatuhan manusia Allah sudah menentukan orang yang dipilih untuk selamat dan binasa. Jelas pemikiran konsep ini melampui apa yang Allah nyatakan kepada manusia (karena manusia hanya mengenal Allah sejauh mana Allah memperkenalkan diriNya kepada manusia). Saya sangat setuju dengan pernyataan Arminius dalam “Declarations to the Lords of the state of Holland” yang mengatakan;

God’s appointmen of Christ to be a savior, and in this (and not in God’s instrutable will) our salvation rest. Believer’s assurance depends upon the decree the who believe shall be saved. But the doctrin of this predestination (of supralapsarianism) embraces within itself neither the first nor the second number of the sillogism…but the supralapsarianism position can not accommodate such matters. ( James Nichols, Declaration of Sentiment of Armenianism. Work I. London: Logman, 1925, hal. 555)

Dalam hemat saya Calvinis tidak mengakui keselamatan oleh iman, melainkan mereka memandang keselamatan merupakan ketetapan Allah dari kekal. Alkitab memberikan penjelasan bahwa manusia selamat hanya oleh iman (Roma 1:16-17; Efesus 2:8-9).
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa Allah sudah menetapkan (predestinasikan) janji mengenai juruselamat yang akan membereskan dosa manusia (Kejadian 3:15). Janji penetapan juruselamat yang akan datang, pada masa perjanjian lama disimbolkan dengan domba. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengakui dosa-dosanya dan mengorbankan domba sembagai simbol penghapus dosa, barang siapa yang melakukan ibadah domba korban dan mengimani juruselamat yang akan datang akan diselamatkan.

Penetapan akan datang juruselamat itu telah dinubuatkan dalam nubuatan kitab-kitab perjanjian lama, dan tidak satu nubuatan pun yang gagal mengenai kedatangan Juruselamat. Sehingga dengan Allah menetapkan janji kedatangan juruselamat, maka melalui ketetapan Allah itulah manusia beroleh selamat, sesuai yang dituliskan Roma 8: 29-30. Setiap orang yang telah dipilih dan ditentukan menjadi serupa dengan gambar AnakNya (siapa yang percaya pada penetapan janji penyelamatan mereka yang dipilih Allah).
Alkitab mengajarkan bahwa, keselamatan manusia sudah ditetapkan Allah (mereka yang selamat adalah mereka yang percaya pada Yesus Kristus yang sudah mati tersalib melunasi semua dosa manusia, dan mereka yang tidak percaya adalah mereka yang binasa Yohanes 3:36) dan penetapan keselamatan manusia hanya melalui satu anuggerah yakni anuggerah penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib Kisah Rasul 2:36 tidak ada jalan lain untuk manusia dapat diselamatkan, hanya melalui percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati untuk dosa-dosa manusia dan bangkit dari kematian (1Korintus 15:2-3).

Jadi orang-orang yang diselamatkan menurut Alkitab ialah mereka yang percaya dengan iman bahwa Yesus Kristus sudah ditetapkan mati dan bangkit untuk dosa-dosa manusia, tidak ada jalan lain selain daripada anuggerah salib ini untuk mendapat kasih karunia keselamatan. Tidak dengan perbuatan, amal, ibadah melainkan hanya dengan kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Jelas hal ini bertolak-belakang dengan konsep supralapsarian Calvinis, yang percaya manusia telah ditetapkan tanpa syarat apapun untuk diselamatkan dan tidak adapenolakan untuk binasa.