Tulisan ini dibuat untuk menanggapi artikel yang menuduh Dr. Suhento Liauw, Dr. Steven E Liauw dan Ev. Dance S Suat (saya) sebagai pendusta, pemfitnah dan pembohong yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra Soru, sdr. Eston Patola dan Pdt. Adiy Ndii. Diawali dengan diskusi doktrinal diakhiri penghakiman mereka atas diri kami, mengapa hal ini dapat terjadi? Biasanya disebabkan oleh karena ketidakmengertian pengertian dalam Alkitab mengenai penghakiman atau sebagai metode strawman fallacy (mengintrodusir posisi yang tidak relevan, kemudian menyerang posisi tersebut untuk menjatuhkan lawan). Apapun penyebabnya, kami tidak perlu membela diri atas diri kami, karena Tuhan adalah pembela kami. Namun saya perlu menjelaskan dari sudut pandangan Alkitab kepada teman-teman yang terkasih dan kepada semua pembaca mengenai hakim yang benar.
Hakim Yang Benar
Hakim adalah orang yang mengadili perkara, yang keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Dapat dibayangkan bila hakim tidak benar maka pengambilan keputusannya pasti sewena-wena, hanya menguntungkan atau mengakomodir kepentingan pribadi atau kelompok sang hakim yang tidak benar dan merugikan orang lain. Itulah sebabnya, orang yang mejadi hakim harus orang yang benar, yang memutuskan perkara secara benar dan adil.
Hakim yang benar adalah seseorang yang tidak berdosa, yang hatinya tidak ada kejahatan, adakah manusia yang demikian? Alkitab mencatatkan, bahwa tidak seorangpun yang benar, tidak ada seorangpun yang berbuat baik (termasuk Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra A Soru, sdr. Esthon Patola dan Pdt. Adiy Ndii) Roma 3: 10-12, itulah sebabnya Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra A Soru, sdr. Esthon Patola dan Pdt. Adiy Ndii tidak memenuhi kapabilitas dan kredibilitas memutuskan perkara atas diri kami, lalu adakah hakim yang benar? Hanya Allah sendirilah yang dapat menjadi hakim yang benar atas manusia, karena dihatiNya tidak ada kejahatan (Yermia 19: 5) dan Yesus Kristus sebagai manusia yang tidak pernah berbuat dosa (1 Petrus 2: 22), yang patut menjadi hakim atas manusia (Yohanes 5: 30)
Dalam memutuskan perkara duniawi saja dibutuhkan hakim yang memenuhi mekanisme fit dan proper test supaya tidak terjadi ketimpangan dalam pengambilan keputusan, terlebih lagi dalam memutuskan perkara rohani, kita membutuhkan hakim yang benar supaya tidak tersesat. Apabila konsekuensi keputusan perkara dunia sifat hanya sementara, maka konsekuensi keputusan perkara rohani sifatnya abadi, itulah sebabnya saudara harus mempertimbangkan setiap keputusan rohani berdasarkan keputusan hakim yang benar.
Menghakimi Dengan Benar
Menghakimi berarti juga mengadili atau berlaku sebagai hakim. Dalam bahasa yunani kata Krino adalah kata utama yang menjelaskan menghakimi, selain kata Krino ada juga turunan dari kata ini yakni Katakrino dan Anakrino yang memiliki kenotasi yang sama yakni, memutuskan atau membuat penilai terhadap sesuatu. Dalam kehidupan manusia kegiatan menghakimi adalah sesuatu yang sering terjadi, namun standar menghakimi manusia duniawi dan manusia rohani berbeda. Manusia duniawi memutuskan atau membuat penilaian berdasarkan pandangan pribadi dan seringkali menimbulkan ketimpangan (Amsal 16: 2). Sedangkan manusia rohani dilarang untuk memutuskan segala sesuatu atas pertimbangan diri sendiri (Matius 7: 1-5), melainkan memutuskan atas dasar suara hakim yang benar (Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus) atau memutuskan berdasarkan firman Tuhan ( Yohanes 12: 48, 2 Tim. 3: 16).
Allah melalui firmanNya adalah hakim yang benar (Yohanes 5: 30), yang memutuskan dengan tegas dan jelas lebih tajam dari pedang bermata dua mana pun (Ibrani 4: 12). Menghakimi dengan benar adalah menghakimi sesuai kehendak Allah, seperti yang dituliskan dalam Yohanes 5: 30;
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakimi-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, MELAINKAN KEHENDAK DIA yang mengutus Aku
Ayat di atas memberi argumen mendukung dan tidak ada tindakan pertimbangan yang lain, bahwa harus ada alternatif pilihan, karena hanya satu kesimpulan bahwa penghakiman yang adil adalah penghakiman menurut Kehendak Allah, dan seluruh kehendak Allah dituliskan dalam Alkitab itulah sebabnya menghakimi yang benar adalah menghakimi berdasarkan firman Tuhan.
Menghakimi Menurut Kehendak Allah
Menghakimi menurut kehendak Allah ialah menghakimi sesuai dengan perintah Allah kepada orang-orang percaya atas sesama manusia ( 2 Tim. 4: 2), supaya penghakiman dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, maka orang yang menghakimi haruslah yang mengerti kehendak Allah dan orang yang mengerti kehendak Allah ialah mereka yang sudah diselamatkan dan mempelajari kebenaran ( Ef. 5: 17 dan 1 Tim. 2: 3-4), sehingga keputusan yang diambil, diambil atas landasan firman Tuhan bukan penilai pribadi seperti yang dilakukan Pdt. Budi Asali, Pdt Esra Soru, sdr. Esthon Patola dan Pdt. Adiy Ndii.
Orang Kristen yang sudah diselamatkan dan mempelajari akan kebenaran dapat menilai segala sesuatu (1 Kor. 2: 15) berdasarkan pengertiannya yang baik, yang berkenan kepada Allah (Roma 12: 2). Itulah sebabnya tidak sulit bagi orang yang sudah diselamatkan dan yang mempelajari kebenaran menghakimi ajaran yang sesat, mereka menghakimi berdasarkan firman Tuhan bukan berdasarkan penilaian pribadi, menghakimi secara obyektif bukan secara subyektif seperti yang sering dilakukan Pdt. Adiy Ndii.
Orang Kristen yang mengerti kehendak Allah akan menghakimi bukan berdasarkan hal-hal lahirian melainkan berdasarkan hal-hal rohani (Yoh. 7: 25) dan tidak menghakimi hal-hal yang tidak diatur Alkitab (Matius 7: 1-5). Alkitab mengharuskan untuk menghakimi hal-hal rohani, yang berhubungan dengan pengajaran sesaat (Matius 7: 15-23, 1 Tim. 4: 1-2, 1 Tim. 1: 6-8, 2 Tim. 3: 16, 1 Yoh. 4: 1-6, Yak. 5: 19-20), namun Alkitab melarang untuk menghakimi secara lahiriah (Matius 7: 1-5, Roma 14: 1-12, 1 Kor. 4: 1-5).
Kesimpulan
Tindakan menghakimi secara lahiriah, subyektif, dan sepihak yang dilakukan Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra Soru, sdr. Esthon Patola dan Pdt. Adiy Ndii adalah tindakan yang tidak menurut kehendak Allah atau tidak Alkitabiah, oleh sebab itulah sebagai orang Kristen harus mengetahui kehendak Allah supaya tidak tersesat karena mengandalkan pengertian sendiri. Dan yang jauh lebih penting ialah menyikapi hal-hal demikian secara bijaksana dan membuat pertimbangan atas setiap pengajaran, sehingga tidak tersesat oleh;
…roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 1 Timotius 4: 1-2
…orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka hendak mejadi pengajar hokum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan. 1 Timotius 1: 5-6
…rupa-rupa pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Efesus 4: 14
…serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka….2 Petrus 2: 3
Oleh sebab itu sebagai orang Kristen, saudara harus bersungguh-sungguh mempelajari kebenaran (Ef. 5: 17), menguji setiap roh dan setiap ajaran yang mengaku dari Yesus, Injil ( 2 Kor. 11:3-4, 1 Yoh. 4: 1-4), supaya tidak tersesat dalam pengertian sendiri atau dalam ajaran palsu yang dipengaruhi oleh guru-guru palsu dengan berbagai cara-cara duniawi. Waspadalah dan ujilah segala sesuatu (1 Tes. 5: 21). Maranata!
Oleh: Ev. Dance S Suat
Missionary Independen Baptis Fundamental untuk, Kupang-NTT