Ajaran Baptis dari dulu adalah bahwa baptisan tidak menyelamatkan. Tetapi kaum Baptis serius menanggapi perintah Tuhan untuk membaptiskan! Bukan memercikkan atau menuangkan, atau mengibarkan bendera atas, atau mengelap badannya, atau yang lainnya! Dr. Suhento Liauw telah membuat jelas di awal bahwa baptisan tidak menyelamatkan. Lalu dia membandingkan baptisan percik dengan Kain yang mengubah binatang menjadi tanaman. Oleh Budi Asali ini dilihat sebagai pertentangan, karena Kain tidak selamat.
Untuk membuktikan makna baptizo sebenarnya tidak terlalu sulit bagi mereka yang terbuka pikirannya, bukan sekedar mempertahankan praktek gerejanya. Baiklah, saya akan kutipkan saja dari lexicon (kamus). Kita mulai dengan lexicon Liddell and Scott. Mengapa Liddell and Scott? Karena Liddell and Scott adalah lexicon Yunani klasik. Artinya, tidak seperti banyak lexicon lain yang bersifat religius (dan oleh karena itu berpotensi terdapat bias karena sebagian ditulis oleh pendukung ‘pemercikan’), Liddell and Scott (disingkat LS), terutama mengkaji arti kata Yunani secara sekuler. Memang PB mereka masukkan juga dalam pertimbangan, tetapi mereka melihat secara luas ke tulisan-tulisan Yunani klasik. Lexicon ini memberitahu kita apa arti baptizo bagi orang di jalanan Yunani pada zaman Yesus.
Dalam Bibleworks, LS memberikan definisi berikut:
“βαπτίζω, f. Att. ιῶ, to dip in or under water; metaph., βεβαπτισμένοι soaked in wine, Plat.; ὀφλήμασι βεβ.
over head and ears in debt, Plut. 2. to baptize, τινά N.T.:-Pass., βαπτίζεσθαι εἰς μετάνοιαν, εἰς ἄφεσιν
ἁμαρτιῶν Ib.:-Med. to get oneself baptized, Ib. Hence βάπτισμα”
Catatan: komputer saya kelihatannya tak punya font yang tepat sehingga muncul kotak2.

LS hanya memberikan dua poin. Poin nomor 2-nya tidak banyak menolong untuk kita, karena sekedar memberitahu bahwa kata ini muncul juga dalam PB, dan diterjemahkan “to baptize.” Namun yang ingin kita tahu adalah arti literal dari baptizo. Orang-orang berbahasa Yunani di zaman Yesus, ketika membaca kata baptizo, apakah yang mereka tangkap? LS hanya memberikan satu: Arti literal dari baptizo bagi orang Yunani adalah: “to dip” (mencelupkan).
Ada pengertian metafor, itu jelas. Semua kata dalam bahasa apapun bisa dipakai secara figuratif. LS memberi contoh dalam tulisan Plato (tercelup dalam anggur) dan Plutarch (terbenam dalam hutang).Dalam Perjanjian Baru, LS memberikan sekedar “to baptize,” yang tidak lebih dari transliterasi. Jadi,orang-orang di zaman Yesus yang berbahasa Yunani, ketika mendengarkan kata “baptizo,” mengerti kata itu sebagai “to dip,” atau “to immerse” (mencelupkan, membenamkan, menyelamkan).

TIDAK ADA SATU LEXICON-pun yang memberikan arti “to sprinkle” (memercik) kepada kata
baptizo.

Pernyataan Para Reformator Mengenai arti Baptiso
Calvin berkata, “The word baptize, signifies to immerse; and the rite of immersion was observed by the ancient church.” (Institutes of Christian Religion, book iv, ch. 15). Terjemahan: “Kata membaptis berarti menyelamkan; dan ritus penyelaman dilakukan oleh gereja mula-mula.”

Luther: “The term baptism, is a Greek word. It may be rendered a dipping, when we dip something in water, that it may be entirely covered with water. And though the custom be quite abolished among the generality (for neither do they entirely dip children, but only sprinkle them with a little water,) nevertheless they ought to be wholly immersed, and presently to be drawn out again; for the etymology of the word seems to require it” (dalam karyanya De Sacramento Baptismi dikutip dari karya Dr. Du Veil
tentang Kis. 8:38). Terjemahan: “Istilah baptisan, adalah kata Yunani. Ia dapat diterjemahkan suatu pencelupan, [seperti] ketika kita mencelupkan sesuatu ke dalam air, sehingga seluruhnya tertutup oleh air. Dan walaupun kebiasaan ini sudah hampir hilang pada umumnya (karena mereka tidak mencelupkan anak-anak sepenuhnya, tetapi hanya memercik mereka dengan sedikit air,) namun mereka seharusnya sepenuhnya diselamkan, dan segera ditarik keluar lagi; karena etimologi kata ini kelihatannya mengharuskan demikian.”

Beza: “Christ commanded us to be baptized; by which word it is certain immersion is signified . . . . Nor does baptizein signify to wash, except by consequence: for it properly signifies to immerse . . . To be baptized in water, signifies no other than to be immersed in water, which is the external ceremony of baptism” (Epistola II. ad Thom. Tilium, [apud Spanhem. Dub. Evang. Pars iii. Dub. 24] Annotat. in Marc. vii. 4. Acts xix. 3; Matt. Iii. 11., dikutip dalam Abraham Booth, Paedobaptism Examined, vol 1. hal. 42). Terjemahan: “Kristus memerintahkan kita untuk dibaptis; dengan kata ini sudah pasti penyelaman yang dimaksudkan . . . . Dan baptizein tidak berarti mencuci, kecuali sebagai konsekuensi [dari penyelaman]: karena tepatnya dia berarti menyelamkan . . . Dibaptis dalam air berarti tidak lain dari diselamkan di dalam air, yang adalah seremoni eksternal baptisan.”

Ingat bahwa Luther, Calvin, Beza, hidup di zaman ketika semua orang di Universitas harus belajar Yunani! Jadi, mereka ini orang-orang yang sangat kenal bahasa Yunani, bukan seperti banyak spekulan hari ini. Lebih lanjut lagi, mereka bukanlah orang Baptis! Mereka tidak punya incentif untuk mendukung posisi Baptis. Justru karena itulah kesaksian mereka semakin berharga! Para reformator ini, dalam praktek bergereja mereka, memang melakukan pemercikan. Tetapi mereka tidak membenarkan tindakan mereka atas dasar arti kata baptizo.” Mereka satu suara bersaksi bahwa “baptizo” berarti “menyelamkan, mencelupkan” dan tidak berarti “memercik.” Kiranya anak cucu rohani mereka mau sejujur mereka!

Pernyataan Bapak Gereja Mengenai Arti Baptiso

Para reformator ini kelihatannya membenarkan praktek pemercikan mereka karena mayoritas orang di zaman mereka melakukannya, dan mereka tidak menggangap mempertahankan cara “baptisan” sebagai sesuatu yang penting. Di poin ini, saya tidak setuju dengan mereka, karena Tuhan memerintahkan untuk “membaptis,” sehingga kalau kita tidak“membaptis,”melainkan “memercik,” itu berarti kita belum melakukan perintah Tuhan.
Selain para reformator, ada saksi-saksi lain: bapa-bapa gereja. Epistle of Barnabas menggambarkan baptisan sebagai turun ke dalam, lalu keluar lagi dari air. Shepherd of Hermas, dengan bahasa yang figuratif yang tinggi, menggambarkan baptisan sebagai batu yang menggelinding masuk air (dia pakai batu dalam konteks batu sebagai pembangun gereja). Clemens dari Alexandria menggambarkan baptisan seperti lahir dari air, seperti kelahiran dari seorang ibu. Irenaeus menggambarkan baptisan seperti Naaman yang mencelupkan diri ke sungai Yordan (semua di atas dari Norman Fox, The Rise and Use of Pouring and Sprinkling for Baptism, dicetak ulang oleh Vance Publications, 2001, hal. 487) Di gereja Katolik , penyelaman dilakukan hingga abad ke-13. Oleh sebab itu, Thomas Aquinas, yang hidup di pertengahan abad 13, masih berkata: “It is safer to baptize by immersion, because this is the common practice.” (dikutip oleh H. Harvey, Dale’s Theory of Baptism, hal. 158, dicetak ulang oleh Vance Publication 2001).
Brunner, seorang sejarahwan Katolik, menulis tentang sejarah Roma Katolik: “Seribu tiga ratus tahun, baptisan biasanya dan rutinnya adalah penyelaman seseorang di bawah air, dan hanya dalam kasus luar biasa pemercikan atau penuangan dengan air; yang terakhir ini (percik dan tuang), lebih lanjut, diperdebatkan sebagai suatu cara baptisan; ya bahkan dilarang.” (Ibid.) Perubahan Gereja Roma dari selam kepada percik bukan karena mereka mendapatkan arti baru dari kata baptizo, tetapi karena theolog Roma percaya Gereja punya kuasa untuk mengubah bentuk sakramen. Gereja-gereja Yunani, hingga hari ini menolak pemercikan! Kalau Katolik di Barat, yang menggunakan Latin, lambat laun bergeser, gereja-gereja yang berbahasa Yunani (contoh Ortodoks Yunani), hingga hari ini menolak pemercikan, dan tidak mengakuinya sebagai baptisan. Menurut mereka kata baptizo tidak mengizinkan pemercikan! Saya rasa gereja-gereja yang berbahasa Yunani ini jauh lebih tahu arti bahasa mereka sendiri.

Gereja-gereja Yunani, hingga hari ini menolak pemercikan! Kalau Katolik di Barat, yang menggunakan Latin, lambat laun bergeser, gereja-gereja yang berbahasa Yunani (contoh Ortodoks Yunani), hingga hari ini menolak pemercikan, dan tidak mengakuinya sebagai baptisan. Menurut mereka kata baptizo tidak mengizinkan pemercikan! Saya rasa gereja-gereja yang berbahasa Yunani ini jauh lebih tahu arti bahasa mereka sendiri”.

Penjelasan Ayat-ayat Yang Digunakan Para Penentang Baptis Selam

1. Markus 7:4 “… hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga dan meja-meja” (saya memang percaya kata “meja-meja” ada pada orisinal, karena saya percaya Textus Receptus adalah teks
yang dipelihara).

LAI menerjemahkan baptismois (yang sebenarnya berbeda dari baptizo, namun cognate/satu akar) dengan mencuci di sini. Beza mengatakan (kutipan di atas) bahwa baptizo tidak berarti “mencuci” kecuali sebagai konsekuensi dari suatu penyelaman/pencelupan. Lexicon Thayer setuju, dan dalam definisinya tentang baptizo: “1. properly, to dip repeatedly, to immerge, submerge (of vessels sunk, Polybius 1, 51, 6; 8, 8, 4; of animals, Diodorus 1, 36). 2. to cleanse by dipping or submerging, to wash, to make clean with water.”
Setelah memberikan arti utama baptizo sebagai “menyelamkan,” Thayer memberikan arti kedua: membersihkan dengan cara mencelupkan atau menaruh di dalam air. Jadi jelas, bahwa baptizo berarti menyelamkan, tetapi dalam konteks bisa berarti mencuci, tetapi tetap mempertahankan arti utamanya: mencelupkan/memasukkan ke dalam air. Dalam hal ini Thayer setuju dengan Beza. Dengan kata lain, baptizo tidak bisa berarti “mencuci dengan cara dipercik” atau “mencuci dengan cara dilap,” tetapi “mencuci dengan memasukkan ke dalam air / mencelup.”
Kita bertanya, adakah sesuatu di ayat ini yang membuat arti literal “menyelamkan” atau “mencuci dengan cara memasukkan ke dalam air” tidak mungkin? Tidak ada! Cawan, kendi, dan perkakas, dan bahkan meja, bisa saja dimasukkan ke dalam air. Tidak ada yang tidak mungkin di sini. Mencuci cawan, kendi, dan perkakas dengan cara mencelup sama sekali bukan hal yang luar biasa. Tukang siomai saja sering melakukannya! Saya sering melihat seorang tukang siomai mencuci piring dan perabot-perabotnya dengan cara memasukkan benda-benda itu ke dalam ember yang penuh berisi air. Ah, mungkin anda bertanya, bagaimana dengan meja? Patut dicamkan bahwa kata meja di sini bukan seperti meja kita hari ini yang tingginya semeter lebih. Kata Yunaninya adalah kline (dasar kata “recline” dalam Inggris), dan lebih seperti tempat pembaringan, di tempat lain diterjemahkan tempat tidur. Tetapi juga bukan tempat tidur besar King Size misalnya! Ini adalah tempat tidur portable, yang bisa dibawa-bawa oleh satu orang. “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya (kline)” (Mat. 9:2). “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu (kline) dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat. 9:6). “Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur (kline)” (Luk. 5:18). Kata ini memang bisa juga diterjemahkan meja, karena cara makan orang Yahudi pada waktu itu adalah dengan berbaring pada sisi mereka.

Jadi, adat istiadat yang sangat berbeda. Meja atau tempat tidur ini mirip suatu “usungan” karenanya rupanya mudah dibawa ke manamana. Apakah tidak mungkin untuk menyelamkan kline ini? Jauh dari tidak mungkin, ini mungkin sekali. Dan karena teks sudah memberitahu kita bahwa ada “penyelaman meja,” maka baiklah kita percaya!
Sepertinya kaum pemercikan agak terbalik logikanya. Mestinya mereka mencari bagaimana kata baptizo dipakai secara umum pada waktu penulisan PB. Lihat saja karya-karya klasik Yunani, semuanya memakai baptizo sebagai pencelupan/penyelaman, baik literal maupun figuratif. Jadi ketika ada ayat yang berkata “pen-baptisan” cawan, kendi, tembaga, dan meja, sebaiknya kita terima kata-kata itu, bukannya malah mau mendefinisikan ulang baptizo.

Sebagai ilustrasi: kalau misalnya di koran suatu hari kita membaca judul: “Mobil tercelup di sungai Ciliwung.” Nah, mobil bukanlah sesuatu yang biasanya dicelup. Tetapi, membaca headline itu, apakah kita jadi meragukan arti kata “tercelup”? Perlukan kita mengganti definisi “celup” dengan “mencuci”? Tentu tidak. Mengapa? Karena arti kata “celup” sudah tidak diragukan lagi. Jadi, walaupun mobil tidak biasa dicelup, headline itu justru mengungkapkan sesuatu yang luar biasa, tetapi nyata.

Bagi orang-orang Yunani yang membaca Perjanjian Baru di abad pertama, arti baptizo tidak diragukan lagi, yaitu “mencelup, menyelamkan, membenamkan.”

Saya bisa mengutip banyak sekali otoritas bahasa tentang hal ini, tetapi kesaksian Calvin, Luther, dan Beza, yang adalah kaum pemercik!, cukuplah. Kita tidak perlu tidak percaya bahwa orang-orang Yahudi yang superstitious, dan sangat terikat oleh berbagai kebiasaan dan adat, merendam kline (meja/usungan) mereka. Apakah kita perlu mencari definisi lain dari kata “telan,” karena sulit dipercaya bahwa ikan menelan Yunus? Ataukah kita percaya kata Alkitab?
2. Lukas 11:38 “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.” Komentar Budi Asali: “Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.” Dalam argumentasinya, Budi Asali malah menjadikan kata “mencuci” dalam bahasa Indonesia sebagai standar untuk menentukan arti baptizo. Ini jelas salah, dan adalah logika yang terbalik. “Mencuci” dalam bahasa Indonesia memang tidak harus celup, tetapi baptizo haruslah mengandung makna itu. Sekali lagi, kutipan Beza pantas diulang: “. . . Dan baptizein tidak berarti mencuci, kecuali sebagai konsekuensi [dari penyelaman]: karena benarnya dia berarti menyelamkan”

3. 1 Korintus 10:2 “mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.”

Justru lebih tidak mungkin lagi diartikan “mereka dipercik dalam awan dan dalam laut” atau “mereka dituang dalam awan dan dalam laut.” Kita mengerti kata baptizo di sini dalam pengertian figuratifnya. Ini sering juga dipakai dalam Yunani klasik. Orang dikatakan terbaptis dalam hutang. Atau terbaptis dalam kesedihan. Ini pemakaian figuratif, tetapi tetap terjangkar kepada arti literalnya: penyelaman/pencelupan. Jadi artinya: orang itu terbenam / terliputi oleh hutang, kesedihan, dll. Orang Israel ketika melewati laut Merah dikatakan “dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Ini cocok sekali dimengerti: mereka terliputi dalam awan dan dalam laut! Membaca Firman Tuhan harus hati-hati! Tidak dikatakan mereka dibaptis dalam air laut, tetapi dalam laut saja! Mereka melalui tanah kering waktu itu, tidak ada airnya, tetapi tetap melalui lautnya! Di kiri dan kanan mereka ada air laut Merah, di atas kepala mereka ada awan, suatu gambaran yang sangat jelas bahwa mereka “terliputi dalam awan dan dalam laut!” Sekali lagi kita lihat bahwa pemakaian Alkitab cocok dengan pemakaian seluruh karya Yunani klasik, bahwa baptizo artinya “celup/selam/benam.”

4. Ibr. 9:10 “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan. .

Saya sungguh tidak melihat bagaimana ayat ini bertentangan dengan kesaksian yang hampir universal bahwa baptizo berarti suatu penyelaman, atau “pembasuhan berdasarkan penyelaman.” Tidak ada di ayat ini yang mengharuskan arti lain. Budi Asali berkata, “pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21.” Padahal tidak ada yang PASTI dalam penarikan kesimpulannya itu. Malah sudah jelas, berdasarkan arti dari baptizo, bahwa Ibrani 9:10 PASTI tidak merujuk kepada rantizo di 9:13, 19, dan 21. 1) Kata Yunani yang dipakai berbeda. 2) Tidak ada lexicon yang memberikan “to sprinkle” sebagai arti dari baptizo. 3) Tidak pernah ada satu pun pemakaian baptizo dalam karya Yunani sekuler yang berarti “memercik.” 4) Ada banyak pembasuhan dalam Hukum Taurat yang tidak ada kaitannya dengan “pemercikan” darah, misalnya: “Kemudian haruslah imam mencuci pakaiannya dan membasuh tubuhnya dengan air, sesudah itu masuk ke tempat perkemahan, dan imam itu najis sampai matahari terbenam.” (Bil. 19:7) Sehingga heran sekali, berdasarkan logika apakah bahwa baptismois di ayat 10 “pasti” mengacu kepada rantizo di ayat 13, 19, dan 21, padahal arti kedua kata ini sama sekali berbeda?

Para pendukung pemercikan berkata bahwa baptizo tidak harus berarti menyelamkan, tetapi bisa juga arti-arti lain. Tetapi dengan argumentasi ini, sebenarnya mereka telah membuat kata “baptizo” tidak memiliki arti yang jelas. Jadi, menurut mereka apakah baptizo? Menyelam sekaligus memercik, sekaligus menuang, sekaligus mencuci. Jika ada gereja hari ini yang mulai melakukan “baptisan” dengan cara mengelap badan yang bersangkutan, mungkin itu akan masuk juga ke dalam arti baptizo! Tidak ada paralelnya di bahasa mana pun di dunia, bahwa satu kata berarti sekaligus “mencelupkan,” sekaligus “memercik,” sekaligus “menuang.” Sungguh ini adalah kekonyolan.

Benarkah pada hari Pentakosta tidak mungkin dilakukan “pencelupan” / “penyelaman” kepada 3000 orang? Apakah Hodge atau Budi Asali ada di sana? Bukankah baik Hodge maupun Asali tidak bisa 100% memastikan bahwa tidak ada cara untuk “menyelamkan” orang di hari Pentakosta? Jadi, bahwa tidak ada cukup air, semuanya hanyalah spekulasi! Apakah kita perlu meragukan arti literal dari sebuah kata, hanya karena kata itu dipakai dalam suatu situasi yang bagi pikiran kita sulit? Pemakaian Yunani atas kata baptizo sudah terdokumentasi dengan jelas, dan semuanya mengacu kepada menyelamkan. Satu-satunya alasan untuk mencari definisi lain untuk kata ini adalah karena alasan doktrinal, yaitu untuk membenarkan pemercikan!
Kita telah melihat sebelumnya bahwa baptisan percik baru mulai menjadi trend sekitar abad ke- 13. Tetapi kapankah tercatat tentang pemercikan/penuangan pertama? Dalam tulisan-tulisan para “Bapa Gereja,” acuan kepada pemercikan/penuangan muncul pertama di tulisan Cyprian (pertengahan abad ke-3 M). Dalam surat Cyprian kepada Magnus, ia berkata: “You have also inquired, dearest son, what I think concerning those who, in sickness and debility, have laid hold on the grace of God, whether they are to be regarded as Christians in regular standing, seeing they have not been immersed in the water of salvation, but it has merely been poured upon them. So far as my poor ability comprehends the matter, I consider that in the sacraments which pertain to salvation, when the case is one of strict necessity and God grants his indulgence, divine simpler methods confer the whole benefit upon believers. And it should not disturb any that the sick are only sprinkled or poured upon, since the Holy Scriptures says [Here he quotes Ezekiel xxxvi, 25: ‘Then will I sprinkle clean water upon you,’ and certain passages in Numbers about the sprinkling of the water of purification]. Whence it appears that the sprinkling of water has equal efficacy with the full bath of salvation.” (Norman Fox, “The Rise of the Use of Pouring and Sprinkling for Baptism” The Baptist Review 4 (Oct-Dec 1882), hal. 486, reprinted by Vance Publication, 2001)
Terjemahan: “Kamu juga telah bertanya, anakku, apa yang saya pikir tentang mereka yang, dalam kesakitan dan kelumpuhan, telah mendapat kasih karunia Allah, apakah mereka dapat dianggap Kristen sebagaimana yang lain, karena mereka tidak diselamkan ke dalam air keselamatan, tetapi hanyalah dituangkan ke atas mereka. Sejauh kemampuan saya yang buruk dapat memahami masalah ini, saya menganggap bahwa dalam sakramen yang berhubungan dengan keselamatan, ketika kasusnya adalah terpaksa dan Allah mengizinkan, metode ilahi yang lebih sederhana memberikan benefit yang penuh kepada orang-orang percaya.Dan janganlah orang sakit itu cemas karena hanya dipercik atau dituangkan air, karena Kitab Suci berkata, [Di sini dia mengutip Yehezkiel 36:25: ‘Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih,’ dan perikop tertentu dalam Bilangan tentang pemercikan air pentahiran]. Dari sana kelihatannya pemercikan air memiliki manfaat yang sama dengan mandi keselamatan yang sepenuhnya.”

Ada beberapa poin yang memimpin kepada kesimpulan yang kuat dalam kutipan Cyprian ini:

1. Mengingat bahwa surat Cyprian ini ditulis sekitar tahun 250, jadi hanya 150 tahun terpisah dari Rasul terakhir, Yohanes, Cyprian kemungkinan besar kenal dengan orang-orang yang ayahnya pernah bertemu para Rasul dan melihat para Rasul membaptis.
2. Bahwa pada tahun 250 M, muncul pertanyaan, apakah sah seseorang dipercik, mengindikasikan bahwa para Rasul tidak pernah memercik! Apalagi para hari Pentakosta! Kalau para Rasul memercik pada hari Pentakosta, pertanyaan yang dijawab oleh Cyprian ini tidak mungkin akan muncul! Siapakah yang akan meragukan pemercikan jika para Rasul memang memercik? Tidak ada!
3. Cyprian memang dalam surat ini menyetujui pemercikan (yang adalah kesalahan), tetapi perhatikan bagaimana dia menjawabnya: a) dengan keraguan; dia tidak pasti benar; dia menggunakan bahasa yang rendah hati: ‘so far as my poor ability comprehends’; b) dengan mengacu kepada Perjanjian Lama, mengutip Yehezkiel dan Bilangan; c) Tidak sama sekali mengutip Perjanjian Baru. Jadi, terlihat bahwa Cyprian sama sekali tidak menyangsikan bahwa dalam Perjanjian Baru, baptisan adalah penyelaman. Cyprian yang fasih Yunani memang tidak mungkin meragukan poin ini! Tetapi sayang sekali, belum ada Hodge pada zaman Cyprian, untuk mengingatkan Cyprian bahwa di Yerusalem tidak ada cukup air untuk membaptis 3000 orang, sehingga mereka perlu dipercik! Kalau begitu, Cyprian bisa lebih lega menjawab pert
4. Bahwa Cyprian menganggap baptisan sebagai bagian dari keselamatan, sakramen yang berhubungan dengan keselamatan. Ini adalah kesesatan. Tetapi ini memperlihatkan bahwa asal muasal munculnya praktek pemercikan adalah menyimpangnya makna baptisan. Ketika baptisan dianggap menyelamatkan, maka bayi pun harus dibaptis. Orang sakit pun harus dibaptis. Dan karena mereka tidak bisa dibaptis, maka dipercik pun jadilah!anyaan tersebut!

Mengenai pernyataan Hodge bahwa ditemukan bak baptisan yang tidak bisa dipakai untuk pencelupan, ini saya ragukan, karena Hodge tidak menyertakan gambarnya (atau ada?): 1) entah memang itu bukan bak baptisan; 2) atau sebenarnya memang cukup untuk mencelupkan. Dalam gerejagereja Baptis, tidak jarang baptisan dilakukan menggunakan kolam mainan anak-anak, yang airnya selutut orang dewasa. Si petobat duduk di kolam mainan itu, lalu dia dibaringkan. Sebaliknya, saya punya buku berjudul Archaeology of Baptism (382 halaman), yang mendokumentasikan bukti-bukti Arkeologi tentang baptisan, termasuk foto-foto bak-bak baptisan ataupun lukisan konsep baptisan! Dari hasil penelitian Arkeologi, tidak dapat diragukan bahwa gerejagereja mula-mula mempraktekkan baptisan, bukan pemercikan!Apalagi menyinggung gereja-gereja Yunani! Gereja-gereja Yunani hingga hari ini murni mempraktekkan penyelaman, dan mereka tidak mau menerima pemercikan sebagai baptisan! Ini karena
mereka mengerti bahasa mereka sendiri.

Mengenai kasus pembaptisan keluarga Kornelius, sama sekali tidak ada kesulitan.

Mengingat bahwa arti umum dan literal dari baptizo adalah menyelamkan, para pendukung pemercikan haruslah mampu membuktikan bahwa penyelaman tidak bisa dilakukan. Ini tidak dapat mereka lakukan. Apalagi dalam kasus kepala penjara Filipi, Alkitab tidak mengatakan bahwa baptisan terjadi dalam penjara! (Apakah Budi Asali menambahi Alkitab di sini?) Malahan konteks memberitahu kita bahwa Paulus tidak lagi dalam penjara, tetapi sudah diberi keleluasaan oleh kepala penjara. Sekali lagi, pendukung pemercikan harus bisa membuktikan bahwa 100% tidak bisa dilakukan penyelaman, barulah mereka bisa memakai perikop ini. Jelas mereka tidak bisa membuktikan hal tersebut. Kaum Baptis hanya perlu memberikan satu alternatif yang mungkin: misalnya, bisa saja mereka turun ke sungai kecil di dekat rumah kepala penjara, bisa saja ada bak di dalam penjara, bisa saja ada bak di rumah kepala penjara, dll. Dengan adanya satu saja alternatif yang MUNGKIN terjadi, sudah gugur argumen para pemercik di sini.

Wow, benarkah Hodge bisa memastikan bahwa tidak ada air dekat situ yang dapat dipakai sebagai tempat baptisan? Apakah Hodge pernah mensurvei setiap jengkal tanah antara Palestina dan Etiopia? Kalau pun pernah, pastilah sia-sia! Karena selama ribuan tahun antara kisah Filipus dan Hodge, topografi sungai bisa jadi sudah berubah total! Dalam lebih dari 1000 tahun, sungai besar pun sudah bisa hilang. Ini argumen yang sungguh tidak berbobot. Sebaliknya, penggunaan kata baptizo dalam masyarakat Yunani sebagai “menyelamkan,” seharusnya membuat kita percaya kata-kata Alkitab. Lagipula, kalau memang sida-sida dipercik, kenapa perlu ambil air dari sungai kecil yang kotor? Padahal beberapa tetes dari persediaan air minum bersih saja sudah mencukupi!

Bagaimana dengan alternatif ketiga: Sida-sida turun ke dalam air yang sampai ke perut/dada? Apakah ini tidak mungkin?
Keduanya turun ke dalam air! Hal yang sangat tidak perlu dilakukan hanya untuk melakukan pemercikan! Setelah turun ke dalam air, barulah Filipus membaptis sida-sida, yaitu mencelupkan dia. Lalu keduanya keluar lagi dari air itu! Kaum Baptis tidak mengatakan bahwa di ayat ini “turun ke dalam air” itu adalah baptisannya! Turun ke dalam air itu memungkinkan Filipus membaptis sida-sida! Setelah “turun ke air” barulah sida-sida dibaptis. Lalu mereka kedua keluar dari air. Yang ditekankan kaum Baptis adalah: kalau memang ini pemercikan, sama sekali tidak perlu turun ke air (biar hanya semata kaki pun), cukup diambil sedikit, jauh lebih praktis. Faktanya, gereja-gereja pemercik hari ini sama sekali tidak mencari sungai untuk melakukan pemercikan mereka! Dan mereka tidak turun ke air untuk melakukan pemercikan!

Lukas 3:16 sangat bisa sekali diterjemahkan: I baptize you in water! (di dalam air!) Entah memang penguasaan Yunani Budi Asali sangat kurang, atau dia pura-pura tidak tahu. Hudati adalah bentuk datif dari kata benda hudor. Bentuk datif ini dalam konteks Lukas 3;16 bisa diterjemahkan instrumentatif (dengan air) atau secara locative (dalam air).
Dalam Matius 3:11, digunakan preposisi en, yang diakui bisa diartikan in. Tetapi, pembaca lupa diberitahu bahwa primary meaning dari en adalah “di dalam.” Dalam KJV, en diterjemahkan “in” sebanyak 1874 kali, dan diterjemahkan “with” hanya 134 kali. Jadi, membaptis en hudati, sebenarnya jauh lebih kuat diterjemahkan “di dalam air” daripada “dengan air” karena pemakaian en primernya adalah “dalam” bukan “dengan.”

Lagipula, ada kasus Markus 1:9, “…dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes” yang memakai preposisi eis ton Iordanen (di dalam Yordan). Preposisi eis berarti di dalam, dan tidak bisa diterjemahkan dengan!

Kesimpulan: Orang yang dipercik belum dibaptis. Jadi, maukah anda menaati perintah Tuhan untuk dibaptis, ataukah anda mau mencari lagi alasan lain untuk membenarkan tradisi yang tidak alkitabiah? Masih banyak argumen lain untuk melakukan penyelaman daripada pemercikan. Misalnya Yohanes 3:23, dll. Lagipula, pemercikan hanyalah setengah kesalahan. Kesalahan yang lebih fatal adalah “baptis” bayi.