Suatu penemuan yang paling menarik. Kaum Baptis tidak sama dengan tujuh ratus isme dan kepercayaan lain di dunia ini, yang mana nama pendirinya tidak tercatat dalam Alkitab. Misalnya: Martin Luther pendiri Gereja Lutheran, Henry VIII mendirikan Gereja Episkopal; John Wesley mendirikan gereja Methodist, walaupun ia tidak pernah meninggalkan Gereja Inggris; John Calvin mendirikan Gereja Presbyterian; Alexander Campbell mendirikan Disciples, yang menjadi asal usul dari Sidang Jemaat Kristus; William Miller dan Ellen G White pendiri dari gereja Advent, yang menjadi asal usul dari Seventh Day Advents, Sevent Day Baptist dan Church of God.
Kaum Baptis menyakini, bahwa mereka merupakan kelompok yang mewarisi tradisi jemaat mula-mula, jemaat yang dirintis oleh Yohanes Pembaptis (Matius 3: 3). Jemaat yang dirintis oleh Yohanes pembaptis bukanlah Israel rohani, melainkan sebuah Institusi rohani yang merupakan paket dari Ibadah dalam Roh dan kebenaran. Jika pada masa Ibadah simbolik bangsa Israel bertindak sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, maka pada masa Ibadah dalam Roh dan Kebenaran, jemaat lokallah yang bertindak sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Timotius 3: 15). Masa ibadah simbolik berakhir sampai tampilnya Yohanes pembaptis (Lukas 16: 16), karena sejak saat itu dimulai ibadah dalam roh dan kebenaran.
Karena jemaat dimulai pada waktu Yohanes pembaptis, maka kaum baptis menyakini bahwa yang memulai jemaat Baptis adalah Yohanes Pembaptis, ini sangat berbeda dengan banyak denominasi Kristen yang latar belakang pendiri mereka mendirikan kelompoknya disebabkan oleh ketidak-puasan dengan denominasi mereka sebelumnya. Oleh sebab itu, jemaat Baptis memiliki persamaan yang sangat khas dengan gereja mula-mula, seperti;
1. Adalah gereja lokal, gereja yang kelihatan yang terdiri dari orang-orang percaya yang telah dilahirbarukan yang telah diselam di dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, dan menggabungkan diri untuk bersama di bawah kepemimpinan Roh Kudus menghasilkan perkerjaan yang nyata dan hasil kesalehan yang dapat dilihat.
2. Mengakui Kristus sebagai kepala jemaat (Ef. 5:23), “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”
3. Bersandar pada korban penebusan dan kebangkitan untuk pembenaran dari Kristus (Rom. 5:11; 1:4), “Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu… dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”
3. Bergantung pada Roh Kudus untuk menyucikan dan memimpin (Rom. 15:16; Yoh. 16:13), ” yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus… Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”
4. Adalah jemaat yang menyatu di dalam kepercayaan akan Injil, dan bahwa Injil hanya berpusat di dalam Kristus saja (Kis. 4:12), “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
5. Adalah jemaat yang selalu mengadakan pertemuan jemaat.
6. Memiliki karakteristik pelayanan dua ordinansi: Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Mereka memiliki gambaran yang jelas tentang: BAPTISAN – kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus; dan PERJAMUAN TUHAN – mengingat kematian dan kedatangan Kristus yang kedua kalimaat untuk berbakti pada Allah
7. Adalah jemaat yang menekankan misi. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28: 19, 20).
Oleh sebab itulah, baptis bukan hanya sebuah nama melainkan sebuah karekteristik yang diwarisi dari gereja-gereja mula-mula (gereja perjanjian baru). Karekteristik ini dimiliki semua jemaat baptis perjanjian baru diseluruh dunia, mereka hanya membaptis orang percaya dan menolak segala praktek baptisan bayi dan baptisan percik.
SIAPAKAH KAUM ANA-BAPTIS?
Pada abad ke-16 kaum baptis yang mewarisi tradisi jemaat baptis perjanjian baru dijuluki dengan sebutan Ana-baptis (Yunani: ανα βαπτιζω – dibaptis kembali) Baptisan orang percaya merupakan salah satu ciri utama kepercayaan kaum Anabaptis, dan mereka menolak baptisan untuk anak bayi oleh orang tua mereka. Kepercayaan ini ditentang keras oleh kelompok Kristen Protestan lainnya pada periode itu, oleh sebab itu anggota kelompok ini dianiaya dan banyak yang dihukum mati selama abad ke-16 hingga abad ke-17.
Kebanyakan Anabaptis tidak berurusan dengan negara. Beberapa terang-terangan menolak bekerja sama dengan negara. Banyak di antaranya yang percaya bahwa orang Kristen tidak selayaknya maju perang. Mereka biasanya mengundurkan diri dari masyarakat dan membentuk komunitas tersendiri yang tidak terkontaminasi oleh dunia di sekitar mereka. Bentuk kebaktian mereka sederhana. Pada zaman keemasannya gerakan ini menciptakan banyak himne baru. Beberapa di antara mereka menantikan hari terakhir dalam sejarah dan datangnya Yesus yang kedua kalinya untuk mendirikan kerajaan seribu tahunNya
Kaum Anabaptis memiliki standar moralitas yang tinggi. Standar tersebut tidak hanya berasal dari ajaran agama, tetapi juga etika. Mereka tidak percaya keselamatan dapat diperoleh melalui usaha manusia, namun mereka mengajarkan bahwa jika keselamatan tersebut murni, maka dengan sendirinya akan membuahkan perbuatan-perbuatan yang baik. Mereka mengeluarkan diri persekutuan mereka orang-orang yang tidak memenuhi standar mereka. Di antara kritikus-kritikus mereka yang paling kritis pun tidak dapat membantah bahwa kaum Anabaptis adalah orang-orang yang jujur, suka damai, mampu mengendalikan diri dalam hal makan dan minum, menjauhi bahasa dan kata-kata kasar, bermoral baik, lemah lembut, dan tidak memiliki rasa iri, tamak, dan sombong. Banyak di antara mereka sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Mereka bersungguh-sungguh berusaha untuk hidup menurut standar etika yang diajarkan Yesus dalam apa yang disebut sebagai Kotbah di Bukit.
Tidak jarang kaum Anabaptis dianiaya secara pahit oleh kaum Protestan dan Katolik, karena bagi mereka Anabaptis dianggap kaum revolusioner yang membahayakan dan mengganggu aturan yang telah tertata. Penganiayaan yang mereka alami tidak menghapuskan jejak mereka di benua Eropa, dan beberapa dari mereka masih bertahan. Lebih lanjut, mereka juga berkontribusi terhadap kemunculan atau perkembangan gerakan-gerakan di Britania, terutama kaum INDEPENDEN BAPTIS, dan Quaker. Melalui kaum-kaum ini, terutama dua yang pertama, wajah kekristenan pada abad ke-18 dan ke-19 akan dipengaruhi secara besar-besaran.
SIAPAKAH KAUM INDEPENDEN BAPTIS?
Jika pada abad ke-16 sampai akhir abad ke-18 kaum baptis yang mewarisi tradisi jemaat perjanjian baru disebut dengan sebutan Ana-Baptis, maka pada Abad ke-19 sampai sekarang jemaat baptis perjanjian baru menyebut kelompok mereka dengan sebutan kelompok Baptis Independen.
Kelompok Independen Baptis adalah kumpulan dari gereja-gereja yang memiliki kemurnian doktrin yang dibangun di atas standar Alkitab dan memiliki sistem pemerintahan gereja secara Independen atau berdiri sendiri dengan Yesus Kristus sebagai kepala gereja Lokal. Kelompok Independen Baptis tidak memiliki ikatan hubungan dengan denominasi apapun secara keorganisasian, termasuk dengan kelompok Southern Baptis Convention, Kelompok gereja baptis American maupun dengan organisasi regular baptis lain.
Kelompok Independen Baptis sangat komitmen menegakkan kemurnian doktrin Alkitabiah dan secara konsisten berjuang memberitakan masalah penyimpangan doktrin Alkitab, keselamatan dan gereja. Mereka sangat konservatif menanggapi isu berpakaian dan musik, mereka berpegang pada prinsip pemeliharaan Alkitab oleh sebab itu mereka sangat komit dengan King James Version dan pelayan misi (perintisan gereja lokal). Gereja-gereja Independen Baptis memiliki bentuk dasar utama yakni; ikatan persatuan Fundamentalis atau pemisahan gereja dari dunia.
Lingkup pelayanan kaum Independen Baptis meliputi sekolah Alkitab, penulisan buku-buku dokrinal, memiliki lembaga penerbit, lembaga penerbit kaum Independen baptis secara global adalah Way of life literature, Penerbit Crown dan penerbit Landmark Baptis.

BAPTISAN ALKITABIAH

Apakah Itu Baptisan?

Baptisan merupakan upacara simbolik yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan oleh gereja lokal (Matius 28: 19-20), baptisan merupakan gambaran dari Injil Kristus yakni; kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus (Roma 6: 1-4). Baptisan bukanlah sunat rohani, karena berkat Abraham secara rohani bukan melalui sunat melainkan melalui iman, karena ikatan antara orang percaya dengan Abraham melalui iman bukan sunat (Roma 4: 11). Abraham menjadi teladan orang percaya saat ini karena iman, bukan karena sunat, itulah sebabnya Abraham disebut bapak orang beriman.
Akibat salah menafsir kebenaran iman melalui Abraham jemaat Galatia melakukan kesesatan iman keselamatan dengan mengajarkan, bahwa keselamatan tidak hanya percaya pada penebusan Kristus melainkan harus ditambah dengan sunat (Galatia 1: 6-9, 5: 3-4), namun berkat rohani Abraham bukan melalui sunat melainkan melalui iman (Galatia 5: 6). Orang yang menafsirkan dan melaksanakan berkat rohani Abraham melalui sunat, Paulus menyebut orang yang demikian hidup di luar kasih Karunia Kristus, lepas dari Kristus atau binasa (Galatia 5: 3-4).
Kesalahan yang sama dari jemaat Galatia dilakukan oleh para penganut teologia perjanjian saat ini. Para penganut teologia perjanjian menafsirkan bahwa baptisan merupakan sunat rohani, yang merupakan bentuk perjanjian kerja antara Allah dan gereja (mereka mengajarkan bayi-bayi orang Kristen harus dibaptis), sehingga baptisan ditetapkan sebagai sakramen dalam lingkungan gereja penganut teologia perjanjian.
Tidak ada satu ayat firman Tuhan yang mengajarkan bahwa baptisan merupakan sunat rohani, yang merupakan perjanjian kerja antara Allah dengan gereja atau berkat rohani Abraham diberikan melalui sunat (Abraham mendapat berkat rohani melalui iman sebelum disunat, Roma 4: 11). Sunat merupakan ikatan perjanjian antara Allah dan Abraham mengenai bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah (Kejadian 12: 2-3), sebab itu baptisan bukan sunat rohani melainkan upacara simbolik yang menyimbolkan Injil (Kolose 2: 20)

Siapakah Yang Harus Dibaptis?

Alkitab tidak pernah memerintahkan untuk membaptis bayi dan tidak ada praktek pembaptisan bayi yang tercatat dalam Alkitab, jadi praktek baptisan bayi dalam gereja adalah aturan manusia yang nampaknya penuh hikmat namun tidak ada gunanya (Kolose 2: 22) dan merupakan penyembahan yang sia-sia kepada Allah ( Matius 15: 8-9), yang adalah kebenaran manusia yang didirikan karena tanpa pengertian yang benar (Roma 10: 1-3). Praktek pembaptisan bayi dalam gereja adalah praktek kekristenan yang tidak Alkitabiah.
Ada kelompok Kristen yang mengajarkan bahwa kelahiran kembali diperoleh melalui baptisan sehingga mereka membaptis bayi-bayi, namun ada juga kelompok Kristen yang mengajarkan bahwa bayi-bayi harus di bawa dalam ikatan perjanjian dengan orang tua dan gereja melalui baptisan. Kedua pandangan ini tidak Alkitabiah dan bukan ajaran Alkitab, karena Alkitab mengajarkan bahwa orang yang dibaptis adalah orang yang sudah percaya dan bertobat.
Hanya orang-orang yang sudah bertobat saja yang dibaptis, perhatikan Kisah Para Rasul 2: 41, “ Orang yang menerima perkataan itu memberi diri dibaptis,” sebelum dibaptis orang-orang dalam ayat tersebut mendengarkan berita keselamatan yang disampaikan Petrus, dan bukti lahiria bahwa mereka percaya pada Injil, mereka memberi diri dibaptis jelas tidak termasuk bayi-bayi. Karena orang yang dibaptis adalah orang yang merespon Injil, bayi-bayi belum bisa melakukan hal demikian.
Dalam perjanjian baru, baptisan selalu datang setelah pertobatan dan tidak pernah sebelum pertobatan, yang menerima baptisan sebelum pertobatan dianggap tidak sah dan perlu menerima baptisan yang sah (lihat Kisah Para Rasul 19: 1-7). Itulah sebabnya ketika Sida-sida dari Etiopia menanyakan syarat dibaptis, Filipus menjawab syaratnya ialah “percaya” (jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh. Kis. 8: 37-38), Filipus tidak menyarankan untuk mengikuti katekasasi sekian minggu, apabila tidak memenuhi tuntutan kehadiran maka gagal. Alkitab mengajarkan bahwa orang yang dibaptis hanya memenuhi satu syarat yakni percaya dan bertobat.
Alkitab tidak pernah mencatat baptisan terhadap orang yang belum percaya. Itulah sebabnya praktek baptisan bayi dalam gereja tidak Alkitabiah. Baptisan bayi muncul dalam gereja karena munculnya penyimpangan dalam gereja sehingga makna baptisan yang Alkitabiah dikacau dengan berbagai konsep yang tidak Alkitabiah seperti; baptisan orang sakit untuk kesembuhan, baptisan bayi untuk kelahiran baru, baptisan menyelamatkan dan berbagai macam penyimpangan yang menyesatkan. JADI BAPTISAN YANG BENAR DAN SAH DIHADAPAN TUHAN IALAH BAPTISAN ORANG YANG SUDAH PERCAYA DAN BERTOBAT BUKAN ORANG YANG BELUM PERCAYA DAN BERTOBAT ATAU BAYI.

BERSAMBUNG….