Banyak penyimpangan di dalam ajaran Kristen, namun kita harus bersyukur karena Tuhan tetap memelihara firmanNya sehingga melalui firman Tuhanlah dapat dibedakan manakah ajaran Tuhan Yesus dan manakah ajaramn manusia atau ajaran denominasi gereja. Dalam kesempatan ini saya akan mengupas ajaran Alkitab mengenai baptisan.
Baptisan Yang Benar Adalah Baptisan Orang Percaya
Banyak ajaran mengenai baptisan disimpangkan oleh pengajar-pengajar sesat dan organisasi yang sesat seperti membaptis bayi, membaptis orang sakit untuk kesembuhan, membaptis untuk keselamatan, membaptis untuk mengusir setan atau membaptis untuk mendapat khasiat-khasiat supranatural dan lain-lain.
Matius 3: 11 menerangkan kepada kita bahwa baptisan air ialah tanda pertobatan, itulah sebabnya saat Sida-sida Etiopia menanyakan kepada Filipus syarat dibaptis, Filipus menjawab syaratnya ialah percaya (Kisah Para Rasul 8: 36-38), karena baptisan merupakan gambaran Injil yakni kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus (Roma 6: 1-5). Baptisan merupakan penghayatan terhadap kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, itulah sebabnya Yesus Kristus sendiri dibaptis untuk membuktikan ketaatanNya akan janji karya penyelamatan Allah kepada manusia melalui diriNya sendiri (Yohanes 1: 29; Matius 3: 15).
Orang-orang yang dibaptis sejak bayi atau dibaptis karena ikut-ikutan atau karena membutuhkan surat baptis untuk urusan-urusan birokrasi atau orang-orang yang dibaptis sebelum benar-benar mengerti kebenaran atau dilahirkan kembali sama dengan belum dibaptis karena semua baptisan yang bukan baptisan orang yang sudah percaya belum dilakukan sesuai dengan keinginan Tuhan.
Baptisan Yang Benar Adalah Selam bukan Percik atau Kibar Bendera
Praktek baptisan percik dan kibar bendera sudah dilakukan sangat lama dalam gereja, yang tanpa disadari banyak orang bahwa cara baptisan demikian melawan perintah Tuhan, hal inilah yang dimaksud Paulus bahwa giat untuk Tuhan namun belum diselamatkan, sehingga mendirikan kebenaran sendiri (Roma 10: 1-3). Walaupun tata cara baptisan percik dan baptisan kibar bendera dalam gereja nampaknya penuh hikmat buatan manusia namun tidak ada gunanya selain memuaskan hidup duniawi (Kolose 2: 23), ajaran demikian ajaran manusia yang hanya memuliakan Tuhan di mulut tetapi hatinya jauh dari Tuhan karena lebih mengutamakan adat istiadat dan tradisi gereja daripada melakukan ajaran Tuhan (Markus 7: 6-8), inilah perbuatan orang munafik.
Baptis berasal dari bahasa yunani baptiso yang artinya selam, sedangkan bahasa yunani percik ialah rantiso. Marthen Luther, Jhon Calvin dan Theodera Beza mengakui bahwa baptis yang sesungguhnya ialah selam. Dari keterangan asal kata baptis dapat disimpulkan bahwa membaptis ialah memasukkan ke dalam air. Orang-orang yang sudah dipercik dengan air sudah dirantis namun belum dibaptis.
Selam sangat sesuai dengan gambaran penghayat dan pengakuan terhadap Injil yakni mengakui kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, sedang percik tidak mengambarkan apapun hanyalah upacara formalitas buatan manusia. Baptisan adalah upacara lahiriah yang dilaksanakan jemaat local dalam masa ibadah dalam Roh dan Kebenaran sebagai symbol pengakuan iman terbuka di dalam perkumpulan orang-orang yang telah diselamatkan. Itulah sebabnya untuk mereka yang sudah dirantis tetap harus diharuskan untuk dibaptis, karena memang belum dibaptis, melainkan dirantis.

Baptisan Yang Benar Harus Dilakukan Dalam Persekutuan Orang Lahir baru atau Jemaat Yang Alkitabiah
Upacara baptisan adalah upacara yang diperintahkan Tuhan kepada jemaat Kristus bukan kepada perorangan Rasul apalagi pendeta. Perintah amanat Agung tersebut ditujukan kepada jemaat local, selama ada jemaat local dimanapun jemaat local berdiri amanat agung Tuhan Yesus tersebut berlaku, jadi upacara baptisan adalah upacara yang dilaksanakan jemaat local. Oleh sebab itu, seseorang yang dibaptis harus mengetahui atas wewenang jemaat local manakah ia dibaptis. Yang membaptiskan adalah jemaat local sedangkan gembala, penginjil, Injil dan diaken hanya pelaksana yang ditunjuk oleh jemaat.
Karena baptisan bukan upacara perorangan melainkan upacara yang dilakukan atas nama jemaat local, maka ajaran jemaat yang membaptis sangat mempengaruhi makna baptisan tersebut. Gereja yang tidak Alkitabiah akan melaksanakan prinsip baptisan dengan nilai-nilai yang tidak Alkitabiah sehingga menghasilkan baptisan dengan makna dan prinsip yang salah sebagaimana ajaran gereja yang tidak Alkitabiah.
Hanya gereja yang ajarannya Alkitabiah yang dapat melakukan baptisan Alkitabiah. Orang yang menyadari ketidakAlkitabiahan gerejanya dan meminta baptis ulang adalah orang yang memiliki tekad yang baik untuk mematuhi kehendak Tuhan setepat-tepatnya. Sekali lagi lebih baik melakukannya dengan benar daripada belum pernah melakukannya dengan benar.

BAPTIS ULANG
Banyak orang yang tidak pernah membaca Alkitab alergi dengan istilah baptis ulang. Di dalam Kisah Para Rasul 19: 1-7 terjadi kronologi pembaptisan ulang; orang-orang yang telah dibaptis oleh Yohanes pembaptis namun belum bertobat maka saat bertemu dengan Rasul Paulus mereka dibaptis ulang karena baptisan mereka yang pertama tidak memenuhi syarat-syarat yang benar. Itulah sebabnya orang yang menuduh baptis ulang sesat sama dengan menuduh Alkitab salah dan Rasul Paulus sesat.
Dari tindakan Paulus tersebut bahwa adalah hal yang sangat bijaksana dan berkenan di mata Tuhan bila orang yang belum memenuhi syarat-syarat dibaptis dengan benar dinasehati untuk member diri dibaptis dengan benar, dan orang yang member nasehat demikian adalah orang yang telah berada dalam jemaat yang Alkitabiah.
PERJALANAN IMAN SAYA
Saya diberi diri dibaptis oleh orang tua sejak kecil (jelas tindakan ini tidak Alkitabiah karena Alkitab mengajarkan bahwa orang yang dibaptis adalah orang yang member diri sendiri atas imannya kepada Yesus Kristus, Kisah Para Rasul 2: 41) dan sejak kecil saya sudah memegang teguh tradisi gereja protestan. Bukanlah hal yang baik bila memperbicangkan atau memperbadingkan ajaran satu dengan yang lain itulah pemikiran saya sebelum mengenal kebenaran.
Perjalanan imam saya terguncang saat awal-awal diperhadapkan dengan kebenaran, karena ada begitu banyak hal yang saya yakini benar namun setelah dikaji secara Alkitabiah tidak Alkitabiah sehingga membuat saya terguncang dan hidup dalam pergumulan terutama mengenai baptisan, karena bagi saya baptis ulang adalah hal yang tidak benar.
Namun atas pertolongan Tuhan dalam sebuah acara seminar DR. Suhento Liauw memaparkan kebenaran mengenai baptisan dan menyinggung masalah baptis ulang serta menunjukkan ayat yang menjelaskan mengenai baptis ulang, maka tanpa keraguan saya pun menyerahkan diri untuk dibaptis ulang dalam persekutuan jemaat yang Alkitabiah.
Suatu kerinduan saya yang terbesar ialah menyelamatkan dan memberitahukan kebenaran kepada sanak-saudara, sahabat dan semua orang yang dapat dijangkau, saya pun sangat berharap bahwa banyak orang di NTT dapat mengerti kebenaran dan membentuk jemaat yang Alkitabiah. Mari suadara kita melakukan kehendak Tuhan setepat-tepatnya dan dengan benar!