11150396_10203521162504332_4913109916043109871_n

Oleh: Ev. Dance S Suat, S. Th.,M.B.S. Transkrip Kotbah Kebaktian Minggu Sore, 4 April 2014 di GBIA AGAPE, Kupang-NTT

Pertemuan Rasul Paulus dengan murid-murid di Efesus dalam teks ini menyimpan beberapa pembelajaran teologis, baik dari sisi akademis maupun dari sisi teologi praktis. Dua belas orang yang didapati Paulus di kota Efesus disebut sebagai murid (Kis. 19: 1), mereka mendapat predikat murid berdasarkan pada baptisan yang mereka terima dari Yohanes Pembaptis (Kis. 19: 3). Walaupun mereka menyandang predikat murid, Paulus tidak memperlakukan mereka secara istimewa sebaliknya mereka diperlakukan layaknya orang-orang yang belum mengenal kebenaran.

Pertanyaan klarifikasi yang diajukan Paulus kepada mereka yakni; “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” dan “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” merupakan bukti bahwa mereka tidak mendapat perlakuan istimewa dari Rasul Paulus. Sebagai pemberita Injil yang sejati, Paulus ingin mengetahui kondisi kerohanian mereka, itulah sebabnya ia mengajukan dua pertanyaan tersebut. Mengenai pertanyaan klarifikasi Paulus dalam teks ini menimbulkan beberapa pendapat yang berbeda diantara;

1. Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan Paulus tersebut berhubungan dengan pembaptisan Roh Kudus 2. Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan Paulus tersebut berhubungan erat dengan syarat seseorang menerima baptisan air

Pada umumnya pemegang argumen poin 1 adalah kelompok yang masih mempercayai bahwa baptisan Roh Kudus masih berlangsung hingga sekarang, baptisan Roh kudus diterima untuk menerima pemberian karunia-karunia Roh. Itulah sebabnya pendukung argumen ini percaya bahwa proses wahyu lisan masih berlangsung hingga sekarang, seperti mimpi, visi dan nubuat lisan. Secara implist pendukung argumen ini tidak mengakui kanon tertutup atau Alkitab sebagai satu-satunya firman Tuhan. Sedangkan pendukung argumen poin 2 adalah kelompok yang percaya, bahwa janji mengenai baptisan Roh Kudus sudah digenapi, menurut mereka janji mengenai pemberian baptisan Roh Kudus hanya terjadi di Yerusalem, Yudea, Samaria dan Ujung bumi (Kis. 1: 8) dan merupakan metodologi pemberitaan Injil dan pembangunan jemaat. Oleh sebab itu pembaptisan Roh Kudus bersifat jemaat bukan pemberian kepada individu, argumen ini berdasarkan pada baptisan Roh Kudus yang hanya terjadi empat kali yaitu; di Yerusalem (Kis. 2), Yudea (Kis. 10), Samaria (Kis. 8) dan ujung bumi yang diwakili oleh Efesus (Kis. 19) satu kali melalui penumpangan tangan Rasul Petrus (Kis. 10), dan satu kali melalui penumpangan tangan Rasul Paulus yang mewakili bangsa-bangsa lain (Kis. 19). Pendukung pandangan mengakui Alkitab sebagai satu-satunya firman Tuhan Absolut (kanon tertutup).

Jika pendapat argumen poin 1benar, maka penekanan Rasul dalam Kisah Para Rasul 19:1-7 bukan pada baptisan ulang melainkan baptisan Roh Kudus, dan Rasul Paulus adalah orang yang berhak membaptis Roh Kudus, sehingga konsep baptis ulang yang dilakukan beberapa gereja adalah sesuatu yang tidak punya landasan Alkitab. Sedangkan jika argunen poin 2 benar, maka penekanan Rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 19: 1-7 adalah syarat baptisan yang benar bukan baptisan Roh Kudus, dan Rasul Paulus tidak berhak membaptis Roh Kudus, Sehingga baptis ulang adalah hal yang sah dilakukan bila baptisan sebelumnya tidak memenuhi syarat baptisan yang benar. Mari kita analisa pertanyaan Rasul Paulus berdasarkan teks;

I. SUDAHKAN KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU MENJADI PERCAYA?

Roh Kudus dan Percaya adalah substansi pertanyaan Rasul Paulus kepada murid-murid tersebut, murid-murid tidak memahami jawaban sehingga mereka menjawab, “belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus” atas dasar jawaban ini, Rasul Paulus mempertanyaankan keabsahan baptisan mereka (Kis. 19:3-4). Jika Rasul Paulus ingin menekankan baptisan Roh Kudus seharusnya ia tidak perlu menanyakan keabsahan murid-murid tersebut, sebab keabsahan baptisan Yohanes bukanlah syarat menerima baptisan Roh Kudus.

Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan orang-orang yang bertobat dan menerima Injil (Markus 1: 15, Matius 3:6, 11), semua orang yang menerima pembaptisan Yohanes adalah orang-orang yang telah mengaku dosa, seperti yang ditulis dalam Matius 3: 6 “Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Doktrin Yohanes Pembaptis yang disampaikan kepada orang-orang yang menerima pembaptisannya yaitu mereka diminta menanti kedatangan seseorang yang lebih besar daripadanya (Matius 3: 11), Yohanes pembaptis tidak merujuk kepada Rasul Paulus, melainkan rujukan tersebut mengarah pada diri Yesus Kristus, hal ini terlihat dari reaksi Yohanes pembaptis saat Yesus Kristus memberi dibaptis (Matius 3: 13-15). Oleh sebab itulah Paulus bukanlah pemegang otoritas baptisan Roh Kudus melainkan Yesus Kristus. Kita makin jelas, bahwa Rasul Paulus dalam teks Kisah Para Rasul 19: 1-7 bukan menekankan penerimaan baptisan Roh Kudus melainkan menekankan syarat baptisan yang benar.

Dari klarifikasi pertanyaan awal Rasul Paulus, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pertanyaan klarifikasi Rasul Paulus tersebut bukan tujuannya meminta murid-murid tersebut menerima baptisan Roh Kudus, melainkan Rasul Paulus ingin mengetahui pemahaman mereka atas doktrin yang benar saat menerima baptisan Yohanes. Ternyata murid-murid ini sama sekali tidak mengerti tujuan mereka dibaptis, secara implist mereka memang mengaku dosa dan percaya Injil sesuai dengan Matius 3: 6 dan Markus 1: 15 namun mereka tidak mengerti tujuan baptisan Yohanes Pembaptis. Seperti yang sudah kita bicarakan di waktu-waktu yang lalu, bahwa orang-orang yang dibaptis Yohanes adalah kumpulan orang yang dipersiapkan untuk menanti kedatangan Kristus atau Mesias, secara simbolik Yohanes mempersiapkan mempelai wanita untuk menanti kedatangan mempelai prianya dan mereka yang mengakui Yohanes sebagai orang yang diutus mempersiapkan jalan bagi Mesias memberi diri dibaptis.

Pertanyaan awal, Rasul Paulus dengan menanyakan eksistensi Roh Kudus dalam hidup orang percaya memberikan bukti, bahwa ia sedang mengklarifikasi pengertian murid-murid mengenai tujuan pembaptisan mereka. Dari jawaban murid-murid tersebut terbukti bahwa mereka tidak mengerti doktrin yang benar walaupun sudah dibaptis. Hal ini berbedan dengan pesan Yohanes Pembaptis, yang memberikan pesan kepada orang-orang yang dibaptis, bahwa mereka harus menantikan kedatangan seseoraang yang lebih besar daripadanya yaitu Yesus Kristus, sebab melalui pemberitaan Yesus Kristus mereka dapat memahami peranan Roh Kudus dalam hidup orang percaya.

Orang-orang percaya dan dibaptis oleh Yohanes tidak langsung mendapat meterai Roh Kudus dalam hati pada saat itu, sebagaimana kita sekarang (Efesus 1: 13). Mereka yang percaya dan dibaptis sebelum Yesus dimuliakan diminta untuk menantikan kedatangan Roh Kudus. Yesus berpesan, Roh Kudus akan tinggal dalam hati orang percaya bila Ia dimulaikan atau saat Yesus dimuliakan maka secara otomatis Roh Kudus akan tinggal dalam hati orang-orang yang percaya (Yohanes 7: 37-39). Klarifikasi ini menemukan alasan pertanyaan Rasul Paulus kepada murid-murid diawal pertemuan mereka. Paulus ingin mengetahui alasan mereka menerima baptisan Yohanes bukan mengenai pembaptisan Roh Kudus.

II. KALAU BEGITU DENGAN BAPTISAN MANAKAH KAMU TELAH DIBAPTIS?

Sesudah mendapat jawaban klarifikasi bahwa sesungguhnya orang-orang yang disebut murid tersebut tidak memahami doktrin yang benar, Rasul Paulus melanjutkan pertanyaan dengan menanyakan keabsahan baptisan mereka. Pertanyaan Paulus ini bisa berindikasi, bahwa Paulus ingin mengetahui otoritas baptisan mereka atau Paulus ingin tahu alasan mereka dibaptis, jawaban yang mereka utarakan “Dengan baptisan Yohanes” (Kis. 19: 3) sudah menjadi titik terang Paulus, bahwa bukan otoritas pembaptis mereka yang salah sebaliknya merekalah yang tidak memahami pesan baptisan Yohanes, sehingga Paulus memperjelaskan tujuan baptisan Yohanes kepada murid-murid tersebut.

Permintaan Paulus supaya murid-murid tersebut percaya kepada Dia yang datang kemudian daripada Yohanes yaitu Yesus (Kis. 19: 4) merupakan indikator pertanyaan Paulus atas ketidakmengertian mereka terhadap Roh Kudus. Sehingga alasan mereka memberi diri dibaptis Yohanes sangat tidak jelas, inilah indikator permintaan Paulus kepada mereka untuk percaya pada Yesus.

Menarik di ayat 5 dari teks kita (Kis. 19: 5) dikatakan, bahwa setelah murid-murid jelas dengan penjelasan Paulus mengenai baptis Yohanes, mereka memberi diri baptis. Mengenai bagian ini ada dua pendapat yang berbeda;

1. Mereka memberi diri baptis ulang karena baptisan Yohanes tidak berotoritas pada nama Yesus atau tidak mengunakan otoritas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, sehingga baptisan Yohanes tidak sah 2. Pendapat kedua mereka memberi diri dibaptis ulang karena baptisan mereka yang pertama tidak memenuhi syarat baptisan yang benar

Pendapat pertama menghadapi banyak kontradiksi dengan fakta sejarah dalam Alkitab, dimana rasul-rasul dan orang-orang yang sudah menerima baptisan Yohanes tidak mengalami pengulangan baptisan walaupun pengunaan otoritas nama secara sah digunakan sesudah amanat agung dalam Matius 28: 19-20. Rasul-rasul yang membaptis sebelum amanat agung-pun membaptis tidak mengunakan otoritas tiga nama tersebut (Yohanes 4: 2) walaupun demikian baptisan mereka sah dan tidak perlu diulang. Argumentasi pendapat pertama sangat lemah dan penuh kontradiksi dengan fakta sejarah Alkitab. Dilihat dari konteks Paulus tidak menanyakan keabsahan nama, melainkan syarat baptisan, sehingga baptisan ulang yang dilakukan Paulus kepada murid-murid dalam Kis. 19: 5 bukan berdasarkan otoritas nama melainkan syarat baptisan yang benar.

Pendapat kedua ini lebih logis dan mendapat dukungan dari ayat-ayat Alkitab yang lain. Murid-murid yang memberi diri baptis ulang dalam Kisah Para Rasul 19: 5 disebabkan oleh baptisan pertama mereka tidak memenuhi syarat sehingga tidak sah, sesudah mereka mengerti syarat-syarat yang sah dari pembaptisan maka mereka menyadari bahwa baptisan mereka yang pertama adalah pembaptisan yang tidak memenuhi syarat baptis yang benar oleh sebab itulah mereka memberi diri dibaptis ulang dengan baptisan yang benar yakni baptisan yang memenuhi syarat yang sah.

Baptisan air bukan syarat masuk sorga, baptisan tidak dapat menyucikan dosa, baptisan bukan tanda meterai dan baptisan bukan tanda perjanjian berkat Abraham penganti sunat. Alkitab menjelaskan ada tiga hal mengenai baptisan; 1) Baptisan tanda pertobatan, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan…” Matius 3:11; 2) Baptisan adalah gambaran dari kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus atau gambaran dari Injil, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru,” Roma 6: 3-4; 3) Baptisan adalah tanda keanggotaan jemaat lokal, “Sebab dalam satu Roh kita semua baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh,” 1 Korintus 12: 13.

Jadi seseorang yang dibaptis bukan untuk masuk sorga sebab penjahat di sisi Yesus Kristus tanpa dibaptis sudah dijamin Yesus Kristus bahwa ia akan masuk ke Firdaus bersama Yesus, Lukas 23: 39-43; Bukan juga sebagai syarat untuk menyucikan dosa sebab dosa manusia hanya dapat disucikan melalui percaya pada Yesus Kristus sebagai juruselamat, 1 Korintus 1: 30; Bukan juga sebagai tanda meterai sebab tanda meterai diterima seseorang pada saat ia percaya pada Yesus Kristus bukan pada saat dibaptis, Efesus 1: 13; Bukan juga sebagai tanda perjanjian berkat Abraham penganti sunat sebab antara sunat dan baptisan adalah dua upacara simbolik yang berbeda, sunat adalah tanda perjanjian Allah dan Abraham mengenai penyertaannya terhadap keturunan Abraham secara lahiriah, sedangkan baptisan adalah simbol dari kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus (gambaran dari Injil), Roma 6: 1-4, Kolose 2: 12. Sudahkah baptisan saudara memenuhi syarat? Jika belum jangan takut untuk mengulang baptisan saudara dengan syarat yang benar, sebab alkitab menganjurkan hal itu.

III. Substansi Kisah Para Rasul 19: 1-7

Ayat 6-7 dari Kisah Para Rasul 19 seringkali disimpulkan sebagai substansi dari keseluruhan teks oleh sekelompok orang Kristen, dua ayat ini mendeskripsikan fenomena baptisan Roh Kudus dan bahasa lidah yang terjadi sesudah murid-murid mengerti penjelasan Rasul Paulus dan mereka memberi diri dibaptis. Jika bagian ini adalah substansi dari teks kita, maka pembaptisan Roh Kudus yang terjadi adalah sesuatu yang telah direncanakan Rasul Paulus dan Paulus memiliki otoritas membaptis Roh Kudus. Argumen ini memiliki beberapa keberatan Alkitabiah;

1. Narasi awal Kisah Para Rasul 19: 1-7 tidak mencatatkan bahwa peristiwa ini adalah peristiwa yang telah direncanakan Paulus, hal ini terlihat fenomen baptisan Roh Kudus yang terjadi merupakaan fenomena eksternal atau fenomena yang terjadi diluar otoritas Paulus, bahkan secara historis pemberitaan Injil Paulus bukanlah penawaran untuk menerima baptisan Roh Kudus melainkan Injil dan baptisan.

2. Yohanes Pembaptis sudah menegaskan bahwa Yesus Kristuslah orang yang berhak membaptis dengan Roh Kudus (Matius 3: 11), baptisan Roh Kudus yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 19: 1-7 dilakukan oleh Yesus Kristus oleh penumpangan tangan Paulus. Hal ini membuktikan bahwa Paulus tidak memiliki otoritas membaptis Roh Kudus, jadi kejadian tersebut terjadi diluar pengetahuan dan otoritas Paulus.

3. Fenomena bahasa lidah tidak selalu didahului dengan fenomena baptisan Roh Kudus sebagaimana yang terjadi di Korintus ( 1 Korintus 12-14), jika bagian ini merupakan substansi maka seharus pembatisan Roh Kudus terjadi dengan didahului oleh pembaptisan dan diikuti oleh fenomena bahasa lidah, namun ternyata pola ini bukanlah pola yang baku sebab pembaptisan Roh Kudus di Yerusalem terjadi dengan didahului pembaptisan dan fenomena bahasa lidah.

Jadi dari sinilah terlihat bahwa Kisah Para Rasul 19: 1-7 penekananya bukan pada baptisan Roh Kudus. Walaupun bukan substansi dari teks ini namun fenomena pembaptisan Roh Kudus adalah bagian penting dari narasi teks ini, sebab fenomena pembaptisan Roh Kudus yang tercatat dalam bagian ini merupakan pengenapan janji Yesus Kristus di dalam Kisah Para Rasul 1: 8 yakni kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun supaya kamu menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Dengan bukti akurat dan dukung dari teks dan ayat-ayat Alkitab lainnya, kita dapat menyimpulkan bahwa substansi dari Kisah Para Rasul 19: 1-7 adalah pentingnya baptisan yang memenuhi syarat yang benar atau orang yang sudah dibaptis dengan syarat yang benar harus melakukan baptisan ulang dengan syarat yang benar.

Sudahkah saudara dibaptis? Dan apakah Baptisan saudara sudah memenuhi syarat yang benar? Bagi Saudara yang belum dibaptis, maka saudara harus mencari pengertian mengenai baptisan yang Alkitabiah dan bagi saudara yang sudah dibaptis namun belum memenuhi syarat yang benar, maka saudara perlu melakukan baptisan ulang sebagaimana murid-murid yang ditemui Rasul Paulus di Efesus, yang kita pelajari dan renungkan sore ini. Jangan melawan kebenaran melainkan tunduklah pada kebenaran, RENUNGKANLAH SAUDARA, AMIN.

Bagi saudara penguna Facebook, saudara dapat bergabung di Group Berdiskusi Bersama Dance S Suat, M.B.S. Bila ingin berdiskusi bersama Ev. Dance S Suat, Maranatha